Showing posts with label personal. Show all posts
Showing posts with label personal. Show all posts

Saturday, August 16, 2025

The Stages of Fangirling

Ada aja ide bahan blog akhir-akhir ini. Awalnya gara-gara scrolling twitter, nemu tweet tentang celeb crush. Terus gw runut ulang celeb crush gw, lah kok banyak juga ya 🤣 terus jadi baca postingan gw tentang Celebrity Crush, dan di sini celeb crush gw itu yang punya cerita khayalan sebelum tidur. Jadi klo si seleb ini ga dibikinin cerita halu, berarti ga masuk kriteria celebcrush. Okay, baik. Mari kita singkirkan yang ga gw bikin cerita halu alias fanfic.

Terus, gw mikir lagi, berarti stage ngefans paling tinggi buat gw itu adalah fanfic ya? Atau apa? Lanjut mikir tahap awalnya gimana? Abis itu apa? Yasudah, mari kita telusuri bersama-sama stages of fangirling ala gw...

---

1. Awareness

Di tahap ini kita baru kenal sama selebnya (ciyee kenal 😄). Mungkin liat di drama, film, music video, or any media you've watched or just saw. "Ih, siapa nih? Ganteng banget." Gitu biasanya kesan pertamanya. 

Some of celebrities in this stages mostly actor jaman 90an kaya Devon Sawa and JTT. Atau klo Korean, pasti host/bintang tamu di variety show yang gw tonton kaya Running Man, Infinite Challenge, Produce 101, Weekly Idol, Hangout With Yoo dll. Ada penasaran dikit, tapi cuma pas di situ doang, udah.

2. Curiousity

Tahap ini mulai penasaran. Grup apa nih? Main film/drama apa aja nih? Muncul di show mana aja nih? Pokoknya dicari semua karya-karyanya.. ditontonin satu-satu, didengerin satu-satu kalau sempet.

Contohnya pas gw nonton Produce 101, ada yang namanya Yohan. Gw ikutin tuh perjalanannya sampe jadi X1 (yang kemudian bubar). Terus dia main drama gw tonton. Atau dulu pas nonton Running Man, nemu Kim Woo Bin dan Kim Young Kwang, gw tontonin tuh semua drama/film mereka. Atau lagi Kwanghee di Infinite Challenge. Gemez banget ini anak, jadi lah gw cari-cari varshow-nya dia. Banyak sih di tahap ini...tapi ya, yaudah… cuma sekadar nonton, ga sampe obsess.

3. Casual Fan

Mulai deh lagu-lagunya masuk playlist. Setiap ada drama/film baru gw tontonin, mereka ke variety show gw cari juga. Apapun lah. Bahkan mungkin mulai posting-posting… tapi masih kalem, sekedar apresiasi. Belum heboh beli merch dll.

Di tahap ini, mostly ya dari variety show yang gw tonton, terutama Running Man dan Infinite Challenge. Kaya gw ngefans banget sams chemistry Yoo Jaesuk dan Haha, jadilah gw tonton varshow yang ada mereka. Klo idol, mostly generasi 2 yang bolak balik di Running Man, kaya: 2PM dan CNBlue. Generasi 1 juga ada: Sechkies. Atau kalau ngomongin aktor 90-an, ada Hideaki Takizawa dan Takuya Kimura.

4. Enthusiast Fan (Silent Supporter)

I know every schedule they have. Kapan drama baru, kapan comeback, kapan tour. Mulai follow medsosnya, masuk fandomnya. Tapi nggak ribut. Cukup diam-diam memantau. Diam-diam posting, entah di akun medsos yang mana. Kadang hanya sekedar tulisan di notes, atau bahkan cuma donlot foto-fotonya dan disimpen di hape cuma karena ga mau woro-woro aja sih.

Klo ngomongin contoh.. Nicholas Saputra and Sheila On 7, mungkin? Oh atau ini... Jonas Brother, H.O.T., and  Bigbang ada di stage ini for years. Why? Simply because they didn't pass the next stage 🤣 

5. Cocoklogi (The Filter)

Nah tahap ini mungkin ini cuma gw. Jadi sebelum gw emotionally invest, gw pasti cari tanggal lahir mereka. Their birth year, to be exact. If they pass this stage (artinya gap umurnya ga jauh-jauh amat), I’m ready to invest emotionally. Tahap ini penting, banyak yang ga lolos tahap ini.

But here’s the thing… one group is actually an anomaly: BTS. Well, just this once. The one and only time I broke my own rules. And in my defense, the oldest BTS member isn't a full decade older than me. 😌

Dan ada juga sih grup yang easily passed this stage.. they even go straight to the next two stages but I kept them hidden for years. Why? Well… just because.. (Read more about them here 😉)

6. Dedicated Fan

On this stage, I’m already emotionally attached to them. Like… I already gave my heart.  Klo ada good news, gue ikut bahagia. Klo ada yang ngata-ngatain, gue ikutan marah. Dan yang terpenting: udah nggak diem-diem lagi. Di tahap ini, seluruh sosial media gue mungkin sudah penuh dengan postingan tentang mereka. Bukan cuma sesekali atau occasionally, tapi rutin. Seluruh dunia harus tau klo gw ngefans sama mereka.

7. Delulu Fan

Almost the peak of my fangirling journey. But from here, it’s the point of no return. Most of the ones in Emotional Loyalty stage naturally drift here.

Well… welcome to my world of imagination, where everything is possible. Why? It's just been my thing since 1996. Maybe, just maybe, my teenage self never imagined that I could meet them. So yeah, I created the stories, my own world of imagination. Kebiasaan nulis fanfic malah keterusan sampai sekarang. Even after I've moved on from them, the stories stay.

8. Professional Fan (Investment Mode)

The ultimate stage. Not everyone from previous stage makes it here. And yes, I call it investment because you need money for this: buying albums/merch, attending concerts, watching their movies in the cinema, or even spending money just to take a delulu picture with them in a photo booth counts.

But, investment needs a profit, right? Well… all of that makes me happier than ever. That’s the profit, isn’t it? 😉

---

So, that's it.. the Stages of Fangirling ala gw. Memang agak tydack biasa ya… but that's me, a fangirl since 1996. Dan sejak 1996 itu juga gw bikin fanfic pertama gw, didedikasikan untuk Nick and Tay. Later ya, I’ll show you my first ever fanfic, tapi yang sudah dibenerin dan diterjemahin ke English. Why? Karena versi original-nya in Bahasa Indonesia dan getek banget bahasanya, hahahaha… abege pisan lah! Malu sendiri gw bacanya.

Anyway, to end this… I know some, or even maybe most of you reading this, who didn’t know me back in school, might think I'm crazy for obsessing over some guy, or maybe say I'm 'lacking love' because I'm still fangirling at this age. Hey, listen, I've been doing this since 1996. So… am I crazy since 13 years old? Yeah, right...😏 

---

Image generated by Gemini AI

It's safe to say that I'm obsessed. You should be paying rent inside my head. All the acronyms no one gets. And you don't even know my name. I'm a fan. [Fangirl - Cassidy-rae]

Monday, September 10, 2018

Alone, Again.

Udah ketauan banget kalau gw mulai nulis di blog tandanya gw kesepian dan galau. *miris

Iya, rasanya sepi. Tapi gtau mau curhat sama siapa, ngomong apa.
Iya, ngerasa sendiri. Tapi gtau mau ngapain, sama siapa.
Ada beberapa hal yang ga gw ngerti. Tapi gtau mau nanya ke siapa, mulai dari mana.
Ada beberapa hal yang mau gw tanya. Tapi takut salah mengira, gw yang sensyong.

Mulai merasakan ketakutan itu lagi.
Mimpi buruk beberapa tahun lalu sampe pengen lari.

Insting gw ga pernah salah.

Mau bodo amat tapi ga kepikiran.
Mau gw cuekin tapi ga bisa.

Rasanya semakin jauh.
Cape hati.





I think we start growing apart.

Thursday, October 06, 2016

Growing Up With My Name

Gegara postingan di FB soal 'weird name' ini, sebagai seseorang yang punya nama unik, I definetely relate to that. Semua yang tertulis di artikel itu, GW BANGET.

Seperti yang sudah pernah gw ceritain di postingan yang ini, gw pernah merasa ga suka banget sama nama gw karena: aneh, susah, dan belum lagi tatapan orang-orang begitu denger nama gw ini. Ugh.

#growingupwithmyname

"Namanya siapa?"
Masvilia
"Masila?"
Mas-vi-li-a.
"Maspila?"
Masvilia. M-A-S-V-I-L-I-A.
"Masvila?"
ADA KERTAS GA BIAR SAYA TULISIN.

#growingupwithmyname

Jaman SMP yang daftar nama kelasnya terpisah antara cowo dan cewe, gw selalu masuk di daftar nama cowo. Sampai sekarang, kalau ada telemarketing asuransi yang nelepon pasti selalu disapa dengan 'Dengan Bapak Masvilia?'. Hmmmmm..

#growingupwithmyname

Gw menyerah. Karena memang ternyata nama asli gw susah, akhirnya jika suasananya non formal, selalu memperkenalkan diri dengan nama panggilan. Tapi ternyata dengan nama panggilan yang simpel pun, orang-orang masih suka salah. Mona? Nana? Nuna? NONA woy! NO-NA. 

#growingupwithmyname

Nah ini terjadi sekarang, kemarin-kemarin waktu lagi musim reunian. Gw bingung memperkenalkan diri dengan nama panggilan atau nama asli. Karena memang seinget gw dulu pasti temen-temen sekolah taunya nama panggilan. Tapi ternyata mereka juga inget nama asli gw. Asli terharu :') 

Mungkin saking anehnya mereka jadi inget :D

#growingupwithmyname

Punya nama aneh dan unik ternyata ada untungnya juga sih ya, ternyata orang-orang inget nama gw (walau mungkin orangnya mereka lupa). Kalau dapat hadiah undian gitu ga bakal ketuker karena cuma gw yang punya nama ini (yah, walau jarang juga menang). Dan keuntungan lainnya, buat orang lain sih, klo googling nama gw ga bakal nyangkut ke orang lain, cuma ada gw di hasil pencariannya. Coba deh ;)


Wednesday, July 13, 2016

Celebrity Crush

Sebenernya ga perlu penjelasan ya, pasti udah ngerti maksudnya apaan tapi gw iseng nyari di urban dictionary..

1. Someone famous one finds immensely desirable/attractive/sexy and, if given the chance, would be more than happy to sleep with

2. Someone one has close to no chance with but can't help but like/be attracted to/daydream about/want to bang
Doeng! Depannya gw setuju tapi koq ya belakangnya ........ errr..ga gitu-gitu banget sih. Ngefans-nya bener, pake banget. Para celeb crush ini biasa menghiasi khayalan-khayalan gw sebelum tidur. Sekalian latihan basa enggres sih gw mah. Gitu doang koq. :D

Jadi inget komentar H dulu pas gw cerita klo gw hobinya berkhayal bisa kenal sama celebrity crush gw itu, "ga kebayang kamu udah ngapain aja sama Nick Carter." Lah, gimana gimana? *purapurabego*

Eh tapi beneran deh, gw kalo berkhayal ga yang aneh-aneh koq, aku kan anaknya polos :)

Gw bongkar nih ya khayalan sama celebrity crush gw dari jaman dahulu kala:



1. Nick Carter
Settingnya di Orlando. Nick Carter jadi tetangga gw, dia sahabatnya kaka cowo gw. Sering maen ke rumah, sering berantem sama gw karena dia jahil banget, sering maenin game gw ga bilang dulu. Sampe akhirnya suatu hari gw ceritanya kerja di Marvel Comics, gw disuruh ngerjain sebuah proyek yang tak lain dan tak bukan adalah Backstreet Project dan kebetulan  banget karakter yang gw gambar adalah Nick Carter the Ninja Man. Yah dari situlah akhirnya deket, sahabatan, terus keluarganya Nick Carter terpecah-pecah kan, disitulah gw sebagai penolong Nick saat dia terjerumus ke dalam narkoba. -The End.

2. Taylor Hanson
Ada beberapa versi sih klo sama Tay.
Yang pertama: Hanson konser ke Indonesia, gw ga nonton. Eh ternyata sepesawat pas mau ke Bali. Di Bali ternyata satu hotel, jadi suka ketemu, terus tukeran alamat terus surat-suratan. Ketemuan lagi kalo Hanson konser ke Indonesia atau ceritanya gw liburan sekeluarga ke Tokyo pas Hanson konser di sana. - The End, happy ending. Iya, endingnya gitu doang.

Ah canggih bener khayalan gw ini. Pas SMP sampe SMA lho iniiii! Kemudian kan ada Taylor nikah tuh. Kemudian khayalan gw berubah kembali. Jadi ceritanya sebelum Hanson konser ke Jakarta, gw udah hilang kontak sama Tay karena dia pindah rumah. Terus tiba-tiba dia nelepon (mahal pasti ya biaya teleponya hahahahah), ngajak ketemuan sebelum konser, tapi gw jual mahal ga mau ketemu tapi diem-diem udh beli tiket konser. Terus pokoknya akhirnya ketemuan dia ngejelasin bla bla bla. Terus ya udah ga happy ending klo yang ini mah ceritanya. Syediiih..

Terus versi lain: gw tetangganya Tay, satu sekolahan juga, udah deket hampir pacaran, terus gw pindah rumah, yang menginspirasi Tay bikin lagu Hanson yang judulnya Lucy (silahkan googling sendiri liriknya :p). Tapi masi surat-suratan (maap dimari mah jadul). Masih suka ketemu klo dia konser ke kota gw. Terus gwnya punya pacar namanya Brad Renfro (Iyes, yang pemain pelem itu), terus Tay-nya marah. Terus dianya nikah sama sahabat gw. Terus gw ketemu Nick Carter. (lah, nyambung. LOL).

3. VJ Utt
Kalo VJ Utt, ini gw dari SMA sampe kuliah. Jadi settingnya pun pas awal kuliah. Ceritanya gw suka chatting, username gw breezy_girl (ini beneran username gw di mIRC jaman jebot), punya temen chatting orang singapore usernamenya great_greg. Pas gw kuliah di sana, mau kopdar ga jadi-jadi mulu. Sampe akhirnya gw magang di MTV Singapore, ketemu lah sama VJ Utt. Ngobrol. Ngobrol. Ngobrol. Eh, ternyata dia temen chatting gw. Jadi deket deh. -The end.

4. Song Joong Ki
Sama mas Joongki ini agak seru sih, ceritanya ketemuan as temen S2, terus ikutan The Amazing Race Asia bareng... 😆😆😆

Ga aneh-aneh kaaan? Jadi yang gw dijadiin berkhayal itu proses jadi deketnya. Kalau udah deket terus pacaran gw ga tau mau berkhayal gimana,, rasanya ga asik aja gitu. Jadi klo udah gitu pasti khayalannya diulang lagi dari awal. Tapi aselik canggih ya khayalan gw dulu itu, mana berbahasa inggris pulak. Makanya mungkin bahasa inggris gw jaman sekolah itu lumayan bagus ya, berkat latihan sambil berkhayal. Sampe mimpi pun bisa bahasa enggres lho.. 😜

Tapi khayalan gw rada ribet sih, kaya harus banget sesuai reality. Bisa banget malem-malem bangun terus nyalain PC terus googling: dari cafe A ke cafe B berapa lama, naik apa? Jakarta-Seoul penerbangannya jam berapa aja? Rute TARA klo dari negara ini ke negara itu terlalu jauh ga ya? Serius seribet itu gw.. tolooong...

Anyway, kangen jadinya berkhayal sebelum tidur, dulu belum jaman hape, kalo ga bisa tidur ya nyalain radio/kaset terus tinggal pilih mau berkhayal tentang siapa. Yha, paling curi-curi buka PC yekan supaya gw tenang berkhayalnya. Sekarang sih ada hape, klo ga bisa tidur ya tinggal buka hape liat medsos, terus ketiduran, mana sempet berkhayal. 😐


Tuesday, March 08, 2016

Happy 6th!

Tanggal 6 subuh, H udah posting beginian di Path:


Iih..tumben deh! :P

Kenapa gw bilang tumben, soalnya biasanya gw duluan yang posting baru dia posting. Ato kaya tahun kemaren gw sengaja ga posting dan dia pun ga posting sama sekali. Huh! Makanya kaget pas liat postingan dia di path, terharu gimana gitu, hihihihihi.. Alhasil gw jadi kalang kabut nyari inspirasi postingan *anaknya ga mau kalah banget ya gw, hahahahhaha*. Sayangnya, ga nemu foto yang gw mau, jadinya posting ini:

Tuesday, February 16, 2016

Beda Anak, Beda Hamil

Aslinya. Beda.

Dulu..
Tiga bulan pertama ga bisa kemana-mana sama sekali. Mendekam di kamar ato ruang TV dengan keadaan gelap. TV nyala tapi ditonton pun susah karena pusing dan mual. Hape dibanting-banting karena kesel tiap mau liat hape pasti pusing dan mual. Tidur itu baru bisa jam 6 pagi. Kalo malem begadang, ga bisa tidur. Udah macam vampire deh gw dulu.

Sekarang..
Walau pusing dan mual, gw masih bisa memaksakan beraktivitas seperti biasa: ngantor dan ngurus anak. Cuma ga bisa masak aja sih karena dapurnya bau tikus. Klo ke bagian dapur pasti langsung mual. Hoeek.. *tapiemangdasarnyagabisamasakjugasih :P

Dulu..
Makannya banyaaaak banget. Dikit-dikit makan dan ngemil. Walau mual makannya tetep banyak. Tapi ngejaga banget deh makannya, pokoknya  ga makan makanan yang mengandung MSG. Badan gw sampe bengkak. Naek perbulan selalu 2 kg atau lebih. Pokoknya total kenaikan sampe 36w itu sekitar 17 kg.

Thursday, November 19, 2015

Vhie on Tumblr

Akhirnya gw mendapatkan username 'vhie' untuk tumblr gw. Girangnya setengah matiiii! Hahahahha.. Call me lebay, but this 'vhie' has been my trademark since 2000. Iya, seperti yang sudah gw ceritakan di sini yaaa.. Gw sempet ga terlalu peduli sama dunia maya selama beberapa waktu dan saat gw kembali gahul di dunia maya, nama 'vhie' ini nampak banyak dipake orang di berbagai sns/blog. Jadi klo gw telat daftar sns/blog, nama 'vhie' pasti udah ada yang pake. Mending ya kalo dia aktif, ini mah kaga, jadi daftar doang terus sns/blog-nya terbengkalai. Terus gw sebel. Ga penting ya sebenernya, hahahahhaha..

Beberapa bulan yang lalu, gw dapat notifikasi dari tumblr soal username gw disitu. Kayanya tumblr lagi beberes deh, jadi yang ga aktif mau mereka non-aktifkan selamanya. Pas gw ngecek, si username 'vhie' di tumblr ini emang ga pernah update. Jadi gw bersabar, berdoa biar si pemilik emang ga minat lagi sama tumblr dan menunggu biar username 'vhie' ini available kembali. Daaaaan..memang demikian sodara-sodara, pas gw cek barusan, username 'vhie' bisa gw pake. Huhuuuy!

Perkenalkan, tumblr gw yang 'baru': vhie.tumblr.com :)

Tinggal wordpress niiiih.. Kapan ya mereka beberes? :D

Friday, June 19, 2015

Kaca Spion by Andy F Noya

Lagi beres-beres inbox imel gw yang udah bertahun-tahun ga diberesin, tetiba liat imel dari seorang sahabat yang isinya sebuah artikel yang menurut gw, bagus. Rasanya sayang kalo cuma mengendap di imel gw aja. Mending diposting dimari, buat bahan renungan gw juga.

---------------

Kaca Spion

Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta. Tapi, suatu hari ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana. Bukan untuk baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan.
Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler. Namun baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya juga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda?

Malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri. Bukan soal rasanya yang mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah. 

Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu mampir ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit saya. Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya merasa begitu bahagia. Biasanya satu sampai dua jam saya di sana. Jika masih ada waktu, saya melahap buku-buku yang saya minati. Bau harum buku, terutama buku baru, sungguh membuat pikiran terang dan hati riang. Sebelum meninggalkan perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak gado-gado di sudut jalan, di luar pagar. Kain penutupnya khas, warna hitam. Menurut saya, waktu itu, inilah gado-gado paling enak seantero Jakarta. Harganya Rp 500 sepiring sudah termasuk lontong. Makan sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada uang lebih, saya pasti nambah satu piring lagi.

Tahun berganti tahun. Drop out dari kuliah, saya bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan Siapa Orang Indonesia. Kemudian pindah menjadi reporter di Harian Bisnis Indonesia. Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA. Karir saya terus meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan Metro TV.

Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di sudut jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya menjadi gundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan kegundahan tersebut.

Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi menjadi diri saya sendiri. Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu hari kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan
punya rumah sendiri, saya tidak ingin berubah. Saya tidak ingin menjadi sombong karenanya.
Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya.

Sejak kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan menjadi trauma masa kecil saya. 

Waktu itu umur saya sembilan tahun. Saya bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola. Sepeda milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion mobil itu patah. Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer saya tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi mobil, di Jalan Prapanca. Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadi kamar untuk disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar yang cuma enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya. Apalagi tempat tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu.

Tak lama kemudian, saya mendengar keributan di luar. Rupanya sang pemilik mobil datang. Dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya. Intinya dia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya. Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spion mobilnya.

Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang mengandalkan penghasilan dari menjahit baju. Sebagai gambaran, ongkos menjahit baju waktu itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu dua minggu. Dalam sebulan, order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan ada tiga, tapi lebih sering cuma satu. Dengan penghasilan dari menjahit itulah kami - ibu, dua kakak, dan saya - harus bisa bertahan hidup sebulan.
Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut. Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil uang.

Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan uang untuk itu. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu ketakutan. Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah artinya kaca spion mobil baginya? Tidakah dia berbelas kasihan melihat kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi? Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. 

Saya benci pemilik mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya benci orang kaya. Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban mobil-mobil mewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya. Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya. Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka adu layangan. Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari.

Begitu berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada dendam yang terbalaskan.
Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya di dalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka tidak punya hati nurani.

Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa kuliah begitu lezat, Saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu tidak enak di lidah. Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah berubah. Hal yang sangat saya takuti. Kegundahan itu saya utarakan kepada istri. Dia hanya tertawa. ''Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah. Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan. Dulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan. Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,'' ujarnya. Ketika dia melihat saya tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan,"Kamu berhak untuk itu. Sebab kamu sudah bekerja keras."

Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Sama sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua orang kaya itu jahat. Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang saya terima, ada ketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan saya tidak lagi sensitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado yang berubah rasa. Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong. Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak sensitif. Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca spionnya saya tabrak. Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalamkehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang.

Penumpang dan orang yang dibonceng terjerembab. Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang, sungguh ujian yang berat untuk tidak marah. Rasanya ingin melompat dan mendamprat pemilik motor yang menabrak saya. Namun, saya terkejut ketika menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh. Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi. Selain karena terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok. Hanya dalam sekian detik bayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat itu serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion. Wajah yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung. Sang ibu, yang lecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf atas keteledoran anaknya. Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi. Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas segera luluh. 

Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya. Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu. Apalah artinya mobil yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul. Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setidaknya siang itu saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti yang pernah saya rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup yang pahit.


Friday, November 07, 2014

I Hate November

I hate November, even though I was born on November. Something bad happens on November few years ago. I never can get that memory out of my head. I cry every time I remember that November.

I hate November. No, no, I don't hate the month. I hate the things that happened on that November. What did I do wrong? I can only ask God the question but never find the answer.

I hate November.



Sometimes I need some time on my own. Sometimes I need some time all alone. Everybody needs some time on their own. [November Rain - Guns n' Roses]

Saturday, September 20, 2014

Manusia Setengah Salmon part 2

Seperti yang Raditya Dika bilang di buku Manusia Setengah Salmon: Mau tak mau, kita harus seperti ikan salmon. Tidak takut pindah dan berani berjuang untuk mewujudkan harapannya. Bahkan, rela mati di tengah jalan demi mendapatkan yang diinginkannya. Jadi, untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, gak perlu jadi manusia super. Hanya perlu menjadi manusia setengah salmon: berani pindah. 

Hari ini, akhirnya gw pindah lagi. Dari rumah besar milik keluarga besar, ke rumah mungil yang isinya keluarga kecil gw. Kata H, ini lebih berasa 'rumah'. Haha, iya sih soalnya selama ini kan nebeng. Ga usah pusing mikirin isi rumah, menu makanan hari ini, atau bayar-bayaran listrik dan air.

Seharian ini sibuk bolak-balik mindahin barang. Pas ngangkut barang yang terakhir, baru deh kerasa sedihnya. Sedih karena merasa kehilangan tempat berkumpul dengan keluarga besar. Sedih karena tidak punya tempat untuk 'pulang' saat lebaran.

But life must go on. Mungkin memang sudah saatnya rumah itu dijual. Saatnya ngumpul keluarga besar di rumah yang lain, jadi bergiliran ga disitu-situ aja. Kita ga bisa selamanya berada di satu tempat, bukan?

So, this is goodbye. Bubye, rumah pa aki. I will be missing you sooowmuach. And hello to the-new-blue-home. Walaupun kontrakan, setidaknya milik sendiri. New home, new life, new happiness. :)

Rumah bilu balu
Photo credited to H

Friday, August 22, 2014

Pushing Me Away

Stop! Tell me the truth cause I'm so confused
Spinning round these walls are falling down 
And I need you more than you know
I'm not letting goI'm getting close
So take my hand and please just tell me why


Pushing me away
Every last word, every single thing you sayTry to stop me now but it's already too lateIf you really don't care then say it to my facePushing me away


- Jonas Brother



I've tried like you
To do everything you wanted too
This is the last time
I'll take the blame for the sake of being with you


Everything falls apart
Even the people who never frown
Eventually break down
The sacrifice of hiding in a lie
Everything has to end
You'll soon find we're out of time left
To watch it all unwind
The sacrifice is never knowing


Why I never walked away
Why I played myself this way
Now I see you're testing me pushes me away


- Linkin Park

Thursday, August 07, 2014

Sooner or Later

Pengen punya anak lagi, secepatnya.
Itu yang selalu gw bilang kalo ada yang nanya kapan Jonjon dikasih adek lagi. Iya, pengen cepet-cepet, pengen jarak antar anak ga terlalu jauh. Jadi kalo diajak nge-mall ato jalan-jalan, anak-anak gw maennya bisa nyambung, ga yang satu pengen kmaen di playground, yang satu pengen nongkrong di cafe sambil ngeceng.

Pengen punya anak lagi, secepatnya.
Punya anakbayi itu emang ngangenin ya. Kangen nguwel-nguwelnya. Kangen rewelnya. Kangen riweuh bangun malemnya. Kangen eyong-eyong sambil nyanyiin. Kangen liat dia tidur manis di stroller sementara emaknya nge-mall *eehh. Sekarang, masih bisa nguwel-nguwel tapi udah mulai bisa protes. Rewelnya masih, makiiiin rewel soalnya udah punya keinginan sendiri. Riweuh bangun malem, ya cuma bangun aja sih terus tidur lagi. Dieyong-eying udah berat *emaknya ga kuat. Tidur manis di stroller? Hmph. Udah ga bisa! Dia mau duduk di stroller aja udah alhamdulillah. Maunya dorong-dorong stroller ato digendong *sakitpinggang. Klo ga diturutin dia ngamuk. Oh-my-Jon! -_-"

Pengen punya anak lagi. Nanti.
Yup, menjelang Jonjon dua taun ini, agak berpikir dua kali untuk segera punya anak lagi. Kalo kemaren-kemaren mikirin masa-masa menyenangkan punya bayi. Akhir-akhir ini malah mikirin masa-masa menyebalkan saat hamil dan punya bayi. I dont wanna feel it again! And again, masalah gw adalah selalu merasa sendiri. Ngurus anak satu aja kadang bikin gw frustasi, apalagi ngurus dua anak? Huhuhuu.. Mikirinnya aja pengen nangis.

Pengen punya anak lagi. Nanti. Pusing mikirin biaya anak soalnya sekarang mah ditambah cicilan rumah+mobil, kontrakan rumah, belom ngisi rumahnya. Ada dua rumah yang harus diisi. Belom lagi stress gini bawaannya pengen liburan, tapi ga punya duit. Makin stress. Haaaah! Lieur. Kayanya yang di bandung harus dikontrakin deh. *sedih, baru juga jadi*

Pengen punya anak lagi. Nanti. Tapi...
Tau deh, lagi labil. Gimana Allah aja. Gimana yang terbaik menurut Allah aja. Pasrah. Bismillah. Apapun yang terjadi, terjadilah. Kunfayakun.

Sunday, January 19, 2014

Lowest Point

Althought loneliness has always been a friends of mine..

Ga tau kenapa gw selalu merasa kalimat itu benar adanya. Gw selalu merasa gw sendirian. Ga punya temen curhat, ga punya temen maen, ga punya temen diskusi. H hampir selalu pulang malem. Di rumah rame sih, ada sepupu-sepupu gw beserta anak-anaknya. Tapi tetep aja. Sendirian. Kesepian. Yes, I always feel alone. 

Alhamdulillah, sejak hamil, udah ga terlalu merasa sesepi dulu. Setidaknya, ada yang nemenin gw belanja dan jajan. Anaknya lahir, tetep nemenin emaknya belanja dan jajan. Walau lebih rempong ya bawa anakbayi jalan-jalan berdua doang, tapi gw enjoy. Cuma satu yang kurang, teman ngobrol dan diskusi. Iyalah, selama ini cuma satu arah aja, gw curhat panjang lebar, tapi anakbayi kan belom hbisa ngomong. Ngerti aja kaga. Hahahahaha. Ini gw yang gila ato gimana ya? :P

Kemarin sebenernya agak lega sedikit. Punya pengasuh buat anakbayi. Gw jadi merasa terbantu, walau agak gatel pengen ngerjain semuanya sendiri. Agak posesif, ga mau anakbayi diurus orang laen :P. Tapi saat gw udah mulai bisa terima ada orang yang mau ngasuh anakbayi, 3 bulan kemudian si pengasuh malah keluar. Dan gw pun sendirian lagi.

Frankly, I do enjoy doing all things by myself. Ngurusin anakbayi sendiri. Pergi kesana kemari sendiri, eh berdua anakbayi. Tapi tetep aja sih, kadang merasa butuh bantuan. Just a little help. Gw cuma butuh ditemenin saat anakbayi rewel. Butuh ditenangin saat gw ga bisa bikin anakbayi tenang. Butuh dihibur saat gw merasa gagal jadi ibu.

I just need you here, partner. Cuma itu.

Friday, December 20, 2013

Never Loose You

Siang menjelang sore, lagi ngantuk-ngantuknya di kantor. Ga nyadar ada notifikasi dari twitter, ternyata ada yang mention: 


I feel the same way, too. I really do. Wuvya! :*

Aah, berasa pacaran lagi. *blushing*



Friends come and go, but we've through it all together. Through the hard times, you understood. And without you there, I never could have coped with my problems on my own. [Thank You - Kavana]

Tuesday, November 12, 2013

Something Old, Something New

Dari dulu, ada tiga hal yang selalu gw hindari: jualan/wirausaha, ngajar, dan kerja di bank. Tapi ternyata tiga-tiganya udah gw jalanin semua dan ternyata gw enjoy aja tuh ngejalaninnya. Eh kecuali berwirausaha ya. Gw terlalu enjoy tapi paling sering gw lakukan.
  
Dimulai dahulu kala saat SD. Gw punya banyaaak banget buku, akhirnya gw sewa-sewain ke temen seantar jemput. Ya iseng aja sih, ikutan trend. Tapi berakhir dengan buku gw ada yang hilang dan ada yang rusak. Aah, sedih banget gw saat itu. Kapok deh! Lalu gw pun berjanji pada diri sendiri ga bakal lagi nyewain atau pinjemin buku ke siapa pun.

Next, jualan cendol atas saran H. Waktu itu gw baru nikah, H pengen banget punya usaha, terus istrinya ini jam kerja sebagai dosen nyantei banget, akhirnya jualan cendol deh. Tapi cuma bertahan sebentar. Selain karena gw tetiba pindah kerja di bank, cendol di kalangan masiwa memang bukan minuman sehari-hari. Pernah beberapa hari sama sekali gada yang beli. Hmmmph.. Akhirnya cuma dua bulanan, tutup deh jualan cendolnya.

Terus lagi, pas pindah ke pabrik dodol, gw iseng jualin dodol ke temen-temen. Tapi ya namanya iseng, harga yang gw berikan pun jauh dibawah harga pasar. Dan emang dasar gw aja yang ga enak klo jual ke temen dengan harga mahal. Lagian tujuan gw bukan uang sih, cuma melestarikan dodol aja, heheheh..

And now, baru tiga mingguan ini gw sibuk nyiapin proyek jualan lagi. Kali ini, sepatu anakbayik. Berawal dari gw pengen beli sepatu buat anakbayi, ga pernah nemu yang lucu. Susah bener nyari buat anakbayi cowo. Akhirnya nemu dooong! Terus iseng nanyain kalo jadi reseller gimana, eh ternyata bisa. Langsung deh semangat. Soalnya gw tau banget susah nemu sepatu anakbayi cowo yang lucu. Senengnya tuh pas bagian bikin logo tokonya trus ngedit-ngedit foto sepatunya dan aplot ke instagram. Pas bagian ada yang nanya-nanya malah pusing, ahahhaha, maklum nubi. Udah gitu belom berani nyetok karena pengen liat reaksi pasar dulu. Mana banyak yang pengen kiat foto asli. Laaah belom nyetok gw, gimana iniiih? Hihihihi..seru lah seminggu ini. Mudah-mudahan menghasilkan. Minimal balik modal lah ya. Aamiiin..

Btw, namanya tokonya vhie-a-shop. Baru aplotnya di instagram doang sih. Masih soft opening soalnya. Silahkan lho mampir ke http://www.instagram.com/vhieaden ato cukup search vhieaden di aplikasi instagram di hp pintar anda. ;)


-----------------------------------

update!
Vhie-a-shop yang di instagram ganti nama jadi @vhieashop, bukan @vhieaden lagi. Terus, vhie-a-shop juga udah ada di Facebook, Tumblr, Pinterest, dan Twitter. Tapi buat update-an foto sih tetep di Instagram dan Facebook ya! Happy shopping! ;)

Friday, November 01, 2013

My 30th Halloween

Trick or treat!

I wish I could do that tonite. Wearing costume that I made for me and my babymonkee. This is his first halloween. But well, I live in Indonesia, and we didnt do that things. I think it's only me who 'celebrate' halloween. Heheheh..

And here we go again, sitting here alone, writing on my iphone, just finished doing my-halloween-ritual. But, oh wait, I'm not alone, my babymonkee is sleeping next to me. And H is busy with his iphone. 
  
Halah, sudah ah berbasa enggresnyah. Males mikir. Ahahahahha.. Baru juga beberapa kalimat doaaang. -____-" Udah agak pasif nih sekarang, jarang banget dipake. Ga pedean juga. Takut salah. Tapi mau coba sih nanti sama anakbayi ini berbahasa inggri sedikit-sedikit. Bukan belagu sok inggris, tapi menghemat uang les. Muahahahah..
   
Ah, kan suka ngalor ngidul. Back to halloween.

This year, the number is: 3-0. The BIG three-0! Whoaaaa! Tua sekali gw! Eh tapi umur 30 ini belom setua bayangan gw. Buktinya gw masih pede aje pake jam tangan cookie monster, casing iphone donald bebek, dan tas gambar mikimos. *ngikik* Klo ga pake kerudung mungkin gw lebih keliatan  sok anak2 karena rambut gw kaya dora! Yah, barusan gw potong rambut. Potong poni lebih tepatnya. Taun ini ritualnya dilakukan sendiri di rumah karena malas ke salon. Hohohoho..
  
Ah, gw kebiasaan banget ngalor-ngidul.
  
So, di umur yang beberapa menit lagi menginjak ke-30, bersyukur sekali gw punya suami yang sayang dan mengerti kali istrinya ini ga bisa masak dan masih tergila-gila sama nick carter & disney (peluk cium H). Alhamdulillah udah punya anakbayi yang lucu dan lagi dalam fase ga-bisa-diem-sampe-gw-pusing-sendiri (ketjup basah). Alhamdulillah juga dikelilingi teman kantor sekaligus sepupu-sepupu yang ga-betah-di-kantor-klo-laper dan berpikiran sama tentang masa depan perusahaan keluarga ini (haha, lop yu beibeh). Alhamdulillah adek-adek gw udah pada lulus dan kerja, jadi bisa dipalakin (peluk satu-satu). Alhamdulillah juga orang tua gw masih sehat wal afiat jadi bisa nitipin anakbayi dan gw pacaran sama H (sun tangan ibu dan walid). Apalagi ya? Ya pokoknya gw bersyukur atas apa yang udah Allah kasi sama gw selama 30 tahun ini. Senang-sedih semuanya gw syukuri karena semua itu yang membentuk gw jadi kaya gini. Alhamdulillah ya Allah 0:)

Well, it is already 12am. Happy halloween to me! Wish me all the scary best for the next 3000 years :D aaaand H is sleeping. Doski ngucapin tepat waktunya cuma sekali doang pas baru pertama nikah. Ngek.

Uhm, almost forget. Look what H gave me earlier this week:
Couldn't be happier! :') thankies, H! :*

Sunday, September 29, 2013

Nanny for Babymonkee

Akhirnya, nemu juga pengasuh buat anakbayi. Dapetnya dari sodara gw. Masih sodaraan sama ART di rumah sodara gw itu. Pengasuh ini mantan TKW, udah biasa ngurus bayi. Alhamdulillah gajinya ga minta gede. Standar lah ya. Apalagi rencananya, gw masih mau ngurusin anakbayi sendiri. Pengasuh itu hanya bantu-bantu aja dan ngasuh anakbayi kalo gw gada di rumah.

Hari pertama.
Gw sengaja bolos ngantor nih demi adaptasi anakbayi dan pengasuh. Anakbayi ngamuk-ngamuk mulu digendong pengasuhnya. Kasian liatnya :( Ini pengasuh inisiatifnya tinggi banget. Dari pertama dateng, gada tuh dia beres-beres dulu. Naro tas di kamarnya langsung keluar lagi ngambil alih ngegendong anakbayi. Ga disuruh lhoooo! *jeles* *jangangendonganakgw* *apasihgwini* Mana ikut riweuh pas gw mandiin anakbayi. Mungkin maksudnya mau bantuin ya, tapi jadi riweuh buat gw mah.

Hari kedua.
Anakbayi udah lumayan mau maen sama pengasuhnya. Gw sengaja dateng ke kantor siang. Pas ditinggal anakbayi lagi tidur ga sempet pamitan. Dan sepanjang perjalanan ke kantor gw nangis. Jadi ini sebenernya emaknya yang ga bisa ninggalin anakbayi, bukan sebaliknya. :'(

Hari ketiga.
Anakbayi dicoba ditinggal dari pagi. Pas pergi, lagi-lagi dia tidur. Emaknya sedih. Istirahat siang gw pulang, anakbayi langsung ribut pengen digendong. Pas mau pergi ke kantor lagi gw mewek. Ah, cengeng nih gw. Padahal anakbayi rewelnya cuma pas gw mau pergi. Gw udah pergi ya udah lupa deh. Maen sama sepupu-sepupunya plus pengasuh di rumah. *langsungjeles*

Hari keempat sampe sekarang.
Udah mulai terbiasa ritmenya. Anakbayi udah terbiasa sama pengasuh dan sang pengasuh pun udah mulai tau tugas-tugasnya. Tapi kadang dia suka mendahului gw dalam hal nyuapin anakbayi. Padahal kan gw pengen nyuapin sendiri, huhu.. *masihposesip* Tapi kalo mandi tetep sama gw. Untungnya, pengasuh ini udah ngerti klo gw ga mau dibantu pas mandiin anakbayi. Sebelumnya kan suka ikut riweuh tea. Huh.

Sejauh ini, pengasuhnya telaten banget. Ga bisa diem juga. Segala dikerjain, sampe nyikat kamar mandi pun dia kerjain padahal gw ga pernah nyuruh. Ya sudahlah ya, dia yang mau, hehehe.. Kebantu banget sih ada dia, anakbayi jadi ga dibawa ke kantor. Kasian soalnya, jadi ga banyak bergerak. Padahal kan umur-umur segini anakbayi lagi seneng-senengnya bergerak kesana kemari. Anakbayi juga jadi banyak makannya. Mungkin karena ga sering nyusu ya. Dulu kan tiap jam kayanya minta nyusuuu mulu. Sekarang nyusunya klo gw di rumah aja. Ga dikasih ASIP? Persediaan yang dulu udah abis. Dan sekarang gw ga mompa, soalnya klo dipompa hasilnya cuma dikiiit banget. Oia, satu lagi keuntungan punya pengasuh. Kalo di bandung, gw bisa pacaran sama H dan nyokap-bokap gw juga kebantu ada yang gendongin anakbayi kalo lagi rewel, hueheheheh..

Ya tapiii..tetep kalo gw ada di rumah, gw maunya ngurus anakbayi semua-semua sama gw. Parno gw, takut anakbayi lebih deket ke pengasuh daripada ke gw. Maklum, gw kan orangnya jelesan dan superduper posesip. :p

Nggg...dipikir-pikir, kayanya bisa nih segera punya anakbayi lagi kalo pengasuhnya betah. *ditoyorH*

Thursday, August 29, 2013

Si Emak Posesif

Anakbayi tertidur nyenyak di ranjangnya. Kecapean kayanya. Hari ini emang agak ga biasa di kantor. Tidur siangnya anakbayi agak keganggu memang. Kasian.

Iyes, anakbayi masih gw bawa ke kantor sampai hari ini karena belom nemu pengasuh buat dia. Susah ya ternyata. Gw ga pernah berpikir sesusah ini cari pengasuh. Kirain gw banyak yang mau kerja. Iya banyak sih, tapi rata-rata pengen kerjanya di pabrik ato pelayan toko. Ya atau mau gampang sih emang ke yayasan. Tapi bayarannya itu seharga gaji gw. Ngek.

Yang lebih susah lagi sebenernya adalah merelakan anakbayi diasuh sama orang lain. Mungkin karena itu ya gw susah dapet pengasuh buat anakbayi. Mungkin gw yang ga rela anakbayi dipegang orang lain. Mungkin memang gw yang posesif sama anakbayi. Mungkin memang gw yang takut anakbayi bakal berpaling dari gw. Kayanya memang gw yang ga mau diduain sama anakbayi. 

Yaudah berenti kerja aja sih. Toh kerjaan gw juga ga banyak di kantor. Tapiiii..gw jadi ga punya duit. Bukan berarti dari H ga cukup. Bukan itu. Gw takut gw bosen klo gw diem di rumah aja. Gw takut gw jadi orang paling bego seduia yang gatau apa-apa karena seharian di rumah. Gw merasa masih butuh bersosialisasi dengan para manusia. Gw merasa masih butuh menggunakan otak gw untuk berpikir masalah selain anak dan rumah tangga. Dan, gw juga masih pengen belanja sesuatu yang mungkin ga bakal dimengerti sama H (baca: all about bekstritboys :p). 

Yeah, banyak aja alesannya. Dasar gw ya, suka rakus, pengen dua-duanya. Sulit menentukan pilihan. *sighs* Well see, ke depannya gimana. Semoga dapat pencerahan. Aamiiiin.

Friday, August 02, 2013

The Lazy Blogger

Setiap kali buka dashboard blog, gw melihat beberapa tulisan yang belom juga selesai.

Draft.
Draft.
Draft.
Draft.
Draft.

Belom selesai dalam artian, gw memang belom sempet menyelesaikannya (baca: malas), atau mood gw untuk menulis hal itu udah hilang. Nah, yang terakhir ini yang paling banyak.

Beberapa tahun yang lalu gw sempet punya beberapa blog: blogspot, friendster, dan multiply. Yang dua terakhir gw tutup - dan memang akhirnya dua sns itu juga tutup. Kenapa? Ternyata selingkuh itu susah sodara-sodara. Hahhahaha.. Beberapa tahun kemudian, gw kembali selingkuh dari blogspot. Ga tanggung-tanggung, nambah empat sekaligus: myspace, tumblr, twitter, dan path. Ok, twitter dan path memang bukan sarana untuk blogging, tapi hanya sebagai micro-blogging. Karakternya terbatas. Ga bisa panjang-panjang kaya di sini. Tapi, aksesnya sangat mudah, terutama dari smartphone. Dulu, blogspot memang belom ada aplikasinya, terutama di berihitam. Akhirnya, gw memilih yang termudah aksesnya sebagai sarana curhat.

Sewaktu masih punya tiga blog, apa yang gw tulis di friendster dan multiply, pasti gw posting juga di blogspot ini. Kalo sekarang, masing-masing punya fungsi. Twitter dan path berisi curhatan harian, sifatnya netral, dan agak cari perhatian orang. Myspace isinya curhatan yang ga bisa gw kasih liat ke orang lain, sifatnya sangat pribadi. Tumblr isinya kebanyakan quotes yang menggambarkan isi hati gw saat itu. Si blogspot ini pun agak terlupakan. Walau kadang gw masih suka posting di sini sih. Mungkin bisa dilihat dari tahun ke tahun postingannya jadi makin dikit. Kenapa? Satu, keenakan pake microblog. Dua, ya itu tadi, hilang mood dan memang malas *biggrin*.

Yasudahlah. Namanya juga manusia ya, tidak ada yang sempurna. Seperti juga blogger, ada yang rajin ada yang malas. Kebetulan gw termasuk ke dalam golongan yang malas. Ahahahahha. *alasan*

*overandout*
*maunyelesaiintulisanyanglaen*
*semogacepetselesai*

Wednesday, July 31, 2013

Senang Mendengar

Gw senang jadi pendengar.
Cerita apapun pasti gw dengarkan.
Ada kepuasan tersendiri saat mendengarkan cerita orang lain.

Gw senang jadi pendengar.
Dengan begitu gw bisa tau alasan dibalik semuanya.
Apa yang membentuk mereka sebagai manusia.

Gw senang jadi pendengar.
Berasa lagi baca buku cerita.
Menebak-nebak akhir ceritanya gimana.
Memberikan alternatif ending, kalo diperlukan.

Gw senang jadi pendengar.
Apalagi kalo mendengar langsung dari orang terdekat.
Gw jadi merasa dibutuhkan.
Gw merasa berfungsi sebagai manusia.

Gw senang jadi pendengar.
Bisa jadi bahan renungan juga buat gw.
Ato pengingat, seandainya yang diceritain terjadi sama gw.

Gw selalu suka jadi pendengar.
Kamu, tolong jangan berhenti cerita ya! :)
  
  
  
Don't be sorry, I really need to hear the truth. But the only thing I'm asking, 'cos I need you to remember me.. [The Day We Find Love - 911]