Monday, July 20, 2009
Why Cry
Well, maybe because..
..I'm sad.
..I'm so angry.
..of frustration.
..my life feels crap.
..I feel so depressed
..I'm very emotional.
..I'm extremely happy.
..I didn't let my feeling out.
..I have no control of my life.
..I'm being pressured by the situation.
or maybe, I just cry.
I don't have any reason to cry.
It could be caused by chemical imbalance.
It makes me sad, even my life is good.
or maybe, I just try to forget why I cry.
I just don't want to remember the reason I cry.
Friday, July 10, 2009
Must Have Qualities
------------
Mau cari pasangan yang sempurna? Pasti bukan perkara gampang (jika tak mau dibilang missión imposible). Tidak usah muluk-muluk mencari yang sempurna, setidaknya pasangan yang kita pilih atau bahkan kita sendiri harus mempunyai beberapa kualitas yang bisa menjadikan pernikahan kita kelak menjadi kekal. Yang pasti, kualitas pasangan harus berimbang dengan kualitas kita atau bisa menjadi pengisi dari kualitas yang tidak kita miliki. So… anggap saja tulisan ini sebagai catatan kecil buat Anda dan pasangan untuk memperbaiki diri.
1. CAKAP
Jangan salah baca menjadi “cakep” ya! Kalau masalah fisik, itu kan relatif. Dan itu tidak akan kami bahas di sini. Lalu bagaimana sih yang termasuk dalam kriteria “cakap” itu? Pasti Anda senang kan kalau pasangan mengambil inisiatif untuk membantu untuk menyelesaikan masalah? Begitu masalah datang dan Anda dibuata pusing tujuh keliling, datanglah si dia dengan ide cemerlangnya, membantu Anda mengatasi masalah tersebut. Cakap juga bisa diartikan ringan tangan. Eittss… bukan ringan tangan yang suka memukul ya. Kalau yang itu sudah langsung di-band dan dimasukkan ke daftar hitam saja. Ini memaksudkan si dia tanggap segera membantu di saat Anda butuh bantuan meski untuk masalah-masalah ringan alias remeh temeh. Contohnya saja, ketika Anda sedang sibuk memegang si kecil yang rewel, suami tercinta berinisiatif mencuci piring yang menumpuk atau mengajak main si kakak yang juga minta perhatian. Dijamin, Anda akan menghargai tindakan itu dengan perasaan kagum dan cinta tentunya.
2. RENDAH HATI
Makin ke sini makin jarang rasanya orang yang rendah hati. Yang ada, orang berlomba-lomba untuk menunjukkan kelebihannya. Efeknya untuk pernikahan? BESAR. Contohnya, banyak suami yang merasa menjadi tulang punggung keluarga, enggan membantu “urusan rumah tangga”. Menurutnya, itu urusan sang istri. Mulai dari masalah anak, rumah, dan banyak lainnya. Masalah lainnya, sekarang juga banyak istri yang kehilangan rasa hormat terhadap suami karena merasa memiliki penghasilan yang lebih tinggi. Tapi beda kalau masing-masing merasa rendah hati (rendah hati ya, bukan rendah diri). Contoh simpel tindakan yang membutuhkan kerendahan hati adalah permintaan maaf. Kalau salah, akui saja “Saya salah, saya minta maaf”. Bayangkan, berapa banyak konflik yang dapat terselesaikan hanya dengan bersikap rendah hati.
3. MAMPU BERADAPTASI
Suka atau tidak, inilah hukum rimbanya. Siapa yang bisa beradaptasi, dia bisa bertahan. Begitu juga dalam perkawinan karena perkawinan itu sendiri terus berkembang dan butuh perubahan. Siap menikah berarti harus siap untuk mengikuti perubahan-perubahan yang mungkin muncul dalam sebuah hubungan. Begitu anak-anak hadir di tengah kita, kekurangan waktu untuk berduaan, sederetan tagihan yang menumpuk dan permasalahan harian lainnya yang membuat hubungan menjadi renggang. Mungkin saja, waktu untuk berduaan bersama pasangan menjadi satu barang mewah. TAPI, kalau Anda berhasil beradaptasi dengan perubahan ini, berarti Anda akan sukses menjalankan sebuah perkawinan.
4. PEKA
Main perasaan memang tidak selalu baik. Tapi apa jadinya kalau sebuah hubungan rasanya hambar dan berubah menjadi rutinitas seharian saja. Peka dengan kebutuhan pasangan dan berusaha memenuhi kebutuhan tersebut, menjadi nilai tambah tersendiri dalam hubungan. Kepekaan bisa membuka pintu komunikasi dan intimasi sesulit apapun itu. Tunjukkan kepekaan dengan gaya Anda sendiri dan buatlah pasangan Anda semakin “terperosok” untuk selalu terbuka dengan Anda.
5. JUJUR dan SETIA
Beberapa orang yang kami kenal meletakkan masalah ini di urutan yang pertama. Kenapa? Karena kejujuran dan kesetiaan bisa menjadi pondasi rumah tangga yang kuat. Mungkin Anda sama seperti banyak wanita atau pria lainyang merasa sulit mencari pasangan yang jujur dan setia. Bagaimana tidak? Sebagian besar perceraian pasti disebabkan PIL atau WIL. Belum lagi, kemudahan berkomunikasi dapat digunakan untuk hal-hal yang tidak jujur dan selingkuh menjadi hal yang semakin dimaklumi. Kesempatan pun bertaburan seperti sampah di pinggir jalan. Bukan menakut-nakuti, tapi siapa saja pasti diuji masalah yang satu ini dalam kehidupan pernikahannya. Seberapa kuat komitmen Anda dalam pernikahan? Anda sendiri yang tahu jawabannya.
6. PENDENGAR YANG BAIK
Ini menjadi tantangan tersendiri bagi pihak suami. Begitu juga bagi istri yang maunya bicara saja, tanpa mau mendengarkan suami. Kemacetan dalam berkomunikasi kadang-kadang disebabkan satu pihak (atau malah kedua-duanya) tidak bisa menjadi pendengar yang baik.. Semuanya mau didengar tapi banyak yang ingin mendengarkan dengan baik. Jadi, cobalah, untuk duduk diam di depan pasangan yang sedang ingin curhat, perhatikan apa yang ia ungkapkan, tunjukkan kalau Anda peduli dan TUTUP MULUT dulu. Hindari memberi komentar tak perlu yang membuat pasangan menjadi terdiam dan mengurungkan niatnya untuk curhat. Pernikahan Anda dijamin bisa awet bin langgeng kalau Anda berdua terbiasa bicara dari hati ke hati..
7. MANDIRI
Kualitas yang satu ini kami tambahkan dari daftar contekan pribadi . Kenapa? Banyak juga pasangan yang mengalami permasalahan dalam perkawinan mereka karena tidak mandiri. Normalnya, orang dewasa diharapkan bisa mandiri. Tapi, ternyata banyak orangtua yang lupa mengajarkan kemandirian pada anaknya, hingga sang anak, meski sudah menikah masih saja bergantung pada orang tuanya. Ini baru awal. Kelanjutannya, pasti orangtua yang kurang bijak akan merasa punya hak untuk intervensi urusan dalam negeri anaknya karena masih merasa punya “andil”. Ini bisa jadi masalah dalam rumah tangga. Mau langgeng? Cobalah untuk mandiri.
------------
Lets see... gw sih merasa nomer 5 dan 6 insya Allah udah ada di diri gw, yang lain mungkin masi skitar 50-70% lah! ;) and btw, how about you?
Thursday, July 09, 2009
Ready or Not, Here I Come
Analisa berikutnya - masih nyambung ke soal umur - adalah karena tekanan dari keluarga besar. Yang udah gw bilang tadi, umur 25 usia rawan buat cewe kalo udah lebih itu agak-agak ga normal - menurut pemikiran orang-orang tua. Jadi, sudah pasti jadi pusat perhatian kalo di sebuah keluarga besar ada seorang cewe berusia 25 tahun yang belum menikah. Kalo si cewe itu udah punya pacar, pasti ditanyain terus kapan nikah disertai pertanyaan kapan sang pacar akan melamar oleh seluruh keluarga besar, ntah itu tante, om, nenek, kakek, bahkan saudara sepupu. Tidak menutup kemungkinan kalo tiap si pacar maen ke rumah, sang ibu sudah siap dengan pertanyaan, "Kapan mau melamar?" atau paling tidak, dengan tatapan mautnya, hehehehe. Nah, gimana klo si cewe itu ga punya cowo? Hooo..sudah pasti tante-tante dan om-om skalian menawarkan cowo-cowo yang berpotensi sebagai suami. Hadoh, pusiiiiing!!!
Memangnya menikah itu karena umur? Memangnya menikah itu karena tekanan keluarga? Gw jadi penasaran. Berdasarkan hasil wawancara-wawancaraan gw ke teman-teman gw yang sudah dan akan menikah, jawaban mereka:
- Cewe, menikah umur 22 tahun, "abisnya si aa udah ngancem, pokoknya sebelum aa umur 30 tahun harus udah nikah."
- Cewe, menikah umur 21 tahun, "si mas udah ngajak nikah mulu sih."
- Cewe, akan menikah di usia 25 tahun, "si mamah tuh, tiba-tiba nanyain ke dia kapan melamar, ya udah, ngelamar deh."
- Cewe, menikah di usia 18 tahun - MBA (singkat jelas padat).
- Cewe, menikah di usia 22 tahun, "kita pacarannya udah lama sih."
- Cewe, menikah di usia 26 tahun, "gatau, ngerasa yakin aja."
- Cewe, menikah di usia 27 tahun, "dikenalin mamah, trus ngerasa klop aja. berhubung dia udah kerja dan anaknya temen mamah juga, jadi prosesnya cepet."
- Cowo, akan menikah di usia hampir 28 tahun, "gw udah punya kerjaan, mobil, rumah, cuma kurang istri."
- Cowo, menikah di usia 25 tahun, "gw sayang banget sama dia karena cuma dia yang ngertiin gw."
- "dia ganteng dan kaya sih, mayan lah!"
- "yang ngelamar cuma dia, terus gimana?"
- "dia bilang klo gw ga nikah sama dia, dia mau bunuh diri."
Rekapitulasi (berasa bikin tesis) alasan orang menikah - tidak termasuk yang aneh, abnormal, ato agak misleuk - adalah karena usia, keluarga, keyakinan, dan atas nama rasa sayang - atau cinta.
Tapi, ga semua temen gw koq menikah taun ini. Ada juga yang sampai sekarang masih adem ayem pacarannya, bahkan masih suka gonta ganti cewe. Alasannya? Banyak! Kerjanya belom tetap, masi pengen nyari yang laen, tabungan belum banyak, belum punya rumah, belum punya mobil, dan lain-lain deh! Salah seorang temen gw pernah komentar soal alasan-alasan yang menghambat pernikahan. Dia bilang, dia juga dulu mengalami hal yang sama, ada aja alasan/hambatan untuk dia - dan cowonya - untuk tidak dulu menikah, tapi tiba-tiba aja, suatu saat mereka menemukan cara untuk menghilangkan semua alasan/hambatan itu tadi. Hebat! Jadi menurut temen gw itu, berbagai alasan yang dikemukakan cuma ada satu kesimpulan: mereka belum siap.
Eh, kalo orang yang belum juga menikah karena ketidaksiapan, boleh ga gw simpulin yang sudah menikah adalah karena mereka merasa siap untuk menikah? Iya, umur segitu tuh harusnya siap untuk menikah. Iya, keluarga meyakinkan kalo kita udah siap menikah sama si pacar. Iya, kita sayang/cinta sama si pacar dan rasa sayang/cinta itu gakan abis dimakan waktu, berarti kita udah siap. Boleh lah ya! :P Jadi, mereka smua menikah karena memang sudah siap.
But somehow gw percaya kalo tidak ada satu pun manusia yang siap untuk menikah. Gw juga percaya, manusia itu harus dipaksa dulu baru mau, baru bisa. Dan mulailah gw beranalisa lain lagi - masih dengan modal sok tau - bagaimana kalau dibalik semua alasan itu adalah karena memang sudah waktunya aja mereka untuk menikah. Bagi mereka yang belum menikah, ya karena memang bukan waktunya. Orang menikah karena sudah waktunya untuk menikah, bukan karena siap atau tidak siap. Menikah menunggu siap? Memangnya kapan siap akan datang? Lu tau? Gw sih ga tau, dan mungkin ga akan pernah tau kapan siap datang. Makanya, manusia itu harus dipaksa, minimal dipaksa nyiptain kesiapan.
Analoginya gini, klo kita maen petak umpet kita kan biasanya tutup mata dan ngitung tuh dari satu sampai seratus - misalnya. Kalau udah sampe seratus, biasanya orang yang bertugas mencari temen-temennya yang ngumpet bakal bilang "udah ya!", buka mata, dan segera mencari. Kalo bahasa bulenya sih, "ready or not, here I come". Siap ga siap, klo udh seratus hitungan ya harus siap buat ngumpet. Nah, kalo menurut gw sih ya gitu juga soal menikah. Siap ga siap, saat Allah nunjukin jalan buat kita untuk menikah ya kita harus siap. Ya ga?
How about me? Yaah, kalau mau diliat-liat, banyak deh alasan/hambatan untuk menuju ke arah nikah. Gw bukannya ga siap, gw hanya sedang mempersiapkan diri. Gw lagi nunggu Allah bilang, ready or not, here it comes! ;)
*ini adalah akhir dari catatan analisa sotoy seorang insomniac*
And I"m ready to make someone mine. Making my way through an open door. I've got some love and so much more. And I'll find her, 'cos it's about time. It's about time [It's About Time - Jamie Cullum]
Friday, July 03, 2009
Dasar Manusia
Ok, kembali ke yang mau gw tulis. Klo ga salah, di airport tuh ada peraturan check in 2 jam sebelum keberangkatan. Mungkin untuk menghindari orang-orang yang datang tepat waktu sehingga harus lari-lari mengejar pesawat seperti di stasiun bus. Lagian di airport tuh prosedurnya banyak dan pelayanannya ga bisa cepet, apalagi klo keluar negeri. Tapi ternyata, masih ada aja orang-orang yang sangat tepat waktu.
Jadi ceritanya, ini keberangkatan ke Singapura pake Air Asia skitar jam 11.30 WIB, boarding setengah jam sebelumnya which is at 11am. Dari jam 11 kurang gw perhatiin ada seorang petugas ke luar bawa-bawa kertas gt (mungkin tiket ya?) sambil manggil nama seorang bapak. Gw berasumsi klo si bapak itu di-checkin-in sama mas petugas. Selama si mas nunggu si bapak, ada beberapa orang - yang gw asumsiin sebagai penumpang psawat yang sama - datang sambil rarusuh. Karena dari pembicaraan si mas dengan seseorang - lewat ht - masih ada 6 penumpang yang belom datang. Gw ga abis pikir aja, apa mereka belom pernah naek pesawat? Ga mungkin banget! Mereka pasti tau klo ini tuh airport bukan stasiun bus yang begitu penumpang datang bisa langsung naik. Ada prosedur yang harus diikutin dan pastinya membutuhkan waktu yang ga cuma 5 menit. Orang-orang yang aneh. Ada tuh tadi 1 orang yang balik lagi karena ga kburu. Kasian siy memang, tapi udah resiko.
Oia, akhirnya skitar jam 11.15an gt si bapak yang ditunggu datang dan langsung menerobos antrian orang-orang yang mau masuk buat check in. Si mas petugas lega? Ternyata tidak, beberapa menit setelah si bapak itu masuk dengan rarusuh dan si mas petugas baru saja bernapas lega, si mas petugas balik lagi keluar dan supir si bapak tadi nganterin hp si bapak yang tertinggal di mobil. Si mas petugas pun berlari-lari masuk ke dalam berharap belalai pesawat belom ditarik. Ada-ada aja manusia teh ya? Udah telat, hp ktinggalan, ngerepotin orang laen, dia pikir dia siapa siy? *sighs*
--
Sent using mobile phone
Monday, June 29, 2009
About Priority
Dulu gw ga gitu. dulu gw punya tiga tujuan dan berusaha agar tiga tujuan itu tercapai hampir bersamaan. Kenapa begitu? Tuntutan hidup sebenernya. Eh, bukan deng, tuntutan keadaan. Kayanya saat itu keadaan memaksa gw harus sampai di tiga tujuan tersebut. Tapi bukannya tercapai, malah jadi kacau dan tidak ada satupun yang tercapai. Mendekati pun tidak. Sedih? Iya. Kecewa? Pasti. Gw merasa udah berusaha tapi koq malah gagal total!! Tapi dasar bandel (atau bodoh?), hal itu terus gw lakukan. Sekali lagi, gw menyerah sama yang namanya tuntutan dari keadaan. Jadinya malah gw yang pusing. Stress lah!
Untungnya, setelah itu gw udah udah agak pinter - thx to my dear bf who never stop reminding me to make a priority. Gw berusaha nyuekin si tuntutan itu, dan mencoba mencapai tujuan gw satu per satu. Gw pilih mana yang harus gw prioritasin. Dan alhamdulillah pada hari ini, hari senin tanggal 29 Juni 2009, satu tujuan gw udah tercapai. Gw udah tau tujuan gw selanjutnya dan mulai bergerak ke arah sana. Mudah-mudah gada lagi godaan setan dari si keadaan yang selalu menuntut. Kalaupun ada, semoga saat itu gw masih kuat iman dan tidak tergoda. Amin.
Thursday, June 04, 2009
Kursus Pranikah
Ternyata, ntar klo mau nikah, ada lho bimbingan pranikah sama penghulu di KUA. Ya sekalian ngecek berkas dan lain-lain gitu lah. Temen gw ada yang dapet bimbingan pranikah kemaren, dan inilah yang dia dapet:
Intinya, untuk suami dan istri, masing-masing ada lima patokan:
Untuk suami terhadap istri:
- memberi makan istri;
- memberi pakaian istri;
- melindungi istri;
- mengajak kepada kebaikan;
- menghargai istri.
Sedangkan untuk istri terhadap suami:
- memberi senyuman yang menyenangkan saat suami pulang ke rumah;
- melayani suami dengan ikhlas;
- menuruti kata-kata suami;
- menjaga diri saat suami tidak ada di rumah;
- meminta ijin jika ingin bepergian.
Inti menikah ada di Al-quran surat Ar-rum ayat 21:
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir."
Untuk hidup bermasyarakat, ada di Al-quran surat Al-baqarah ayat 155:
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar."
Gw agak ga ngerti soal hidup bermasyarakat, tapi yang gw tangkep sih, Allah pasti akan selalu kasih kita cobaan. Selama kita berniat baik dan sabar, insya Allah, Allah pasti akan membalasnya berlipat-lipat. Jadi, kalau kita masih takut buat nikah karena takut ini-itu dan segala macem, misalnya karena faktor ekonomi, itu salah! Karena yang namanya hidup pasti akan dikasih cobaan. Eh, bener ga? Jadi ga yakin gw, hehehehe..
Tapi....hidup kan butuh duit, jadi gimana dong? Hmmmmm....
Ah sudahlah, rencana awal kan cuma mau nulis info dari temen gw, kenapa gw jadi sok pengen bahas sih? Heee... Ok, I'm over and out! ;)
Eh iya, makasi buat temen gw yang udah berbagi hasil bimbingan pranikahnya.. Sumbernya ada disini :)
Menikah denganku menempatkan cinta, melintasi perjalanan usia. Menikah denganmu menetapkan jiwa, bertahtakan kesetiaan cinta selamanya. [Kahitna - Menikahimu]
Thursday, May 21, 2009
Bestfriend vs Boyfriend
Hari ini, kata ticker yang terpasang di Facebook gw, tepat lima bulan empatbelas hari gw berstatus pacarnya dia. Selama sembilan tahun satu bulan limabelas hari katanya sih gw sahabatnya (eh, seharusnya minus lima bulan empatbelas hari ya? You aja lah ya yang do the math! :P). Koq bisa??? Ah, panjang ceritanya dan bukan untuk konsumsi publik ;). Yang gw inget saat sebelum perubahan status itu, beberapa temen gw yang gw ceritain sempet bilang, "yakin lu na, gakan kehilangan sahabat?", saat itu dengan yakinnya gw bilang, "yakin" tapi sebenernya hati gw mau nambahin koma, kata 'mungkin', dan tanda tanya. Kenapa? Empat alasan. #1 orang bilang pacaran sama sahabat itu ga enak, bakal jadi ada jarak, ga akan sedeket dulu. #2 menurut gw, enak pacaran sama sahabat, gada perasaan ga enak, dia udah tau gw, gw udah tau dia. #3 orang juga bilang sahabat gw bakal ilang, ga ada, musnah. #4 menurut gw juga, pacar bisa gonta-ganti, best friend stay forever. Dua negatif, dua positif, jadinya netral. Ga yakin ngga, yakin juga ngga.
Hari ini, tiba-tiba aja si keyakinan-buat-percaya #1 dan #3 jauh lebih besar daripada #2 dan #4. Sama sahabat, gw bisa cerita apa aja yang gw mau, mulai dari masalah sehari-hari sampai masalah sama pacar. Sedangkan sama pacar, gw merasa ada batasan. Bercerita ke pacar harus hati-hati, dia tersinggung ga ya? Klo gw crita dia bakal gini ga ya? Klo gw ga crita ntar dia jd gini ga ya? Oh God, I really miss my bestfriend! Soooowmuach! Dan sempat terpikir, gw harus nyari orang buat ngegantiin posisi dia dulu. Tapi gw inget lagi alasan #2 dan #4, bukannya itu keuntungannya? Disitu kan kekuatannya? Klo gw nyari semacam sahabat baru, apa kabar dia yang sebagai sahabat gw dari dulu? Gimana klo ntar kami nikah dan gw masih membatasi diri? *SIGHS*
Get real lah na! Sekarang itu sahabat gw ya pacar gw, pacar gw ya sahabat gw itu. They are the same person! Kenapa juga gw jadi ribet sih??? Gw harus bisa cerita apapun ke dia. Gimana pun juga dia itu - minjem istilahnya Ada Band - kekasih gw, sahabat gw. kalaupun ada sesuatu yang ga bisa diceritain ke dia, gw ga boleh cerita ke orang laen, ceritanya ke Allah aja. Itung-itung kan latian kalo gw udah jadi istrinya dia *mulai ngayal, hehe*. Kalau begitu, omongan gw di depan gw ralat, gw sahabatan sama dia bukan 'sembilan tahun satu bulan limabelas hari minus lima bulan empatbelas hari' (sorry gw malas berhitung), tapi seperti yang tertera di tickernya: selama sembilan tahun satu bulan limabelas hari :)