Tuesday, November 20, 2018

Sharing Seminar Parenting (part 3)

Hari ini alhamdulillah berkesempatan lagi ikutan seminar parenting-nya Ibu Elly Risman. Alhamdulillah gratisan lagi *mamakgobermodeON*, kali ini dalam rangka Maulid Fest-nya kantor H, jadi bisa datang berdua sama pasangan. Ahiiiw..

Judul seminar kali ini adalah "Tantangan Orang Tua Zaman Now". Bu Elly Risman membuka seminar kali ini dengan hasil kuisioner yang sudah dari beberapa hari kemarin dibagikan ke peserta, dari sekitar 150 orang, yang mengisi hanya 52 orang (termasuk gw). Kuisionernya sendiri tentang pemakaian gadget pada anak. Dan sudah bisa ditebak ya, kebanyakan dari orang tua sudah mengijikan anaknya main gadget di usia balita. Bahkan memberikan handphone sendiri di usia SD. Alasannya beragam tapi yang paling banyak adalah supaya anak anteng dan orang tua bisa menghubungi anaknya lewat HP. Bu Elly Risman dari dulu memang paling keras soal ini, karena tanpa pengawasan, anak-anak bisa kecanduan dan terpapar pornografi. Serem yak? *tutupmuka*

Sebelum lanjut ke sana, Bu Elly memperkenalkan 7 Pilar Pengasuhan, yaitu:
  1. Kesiapan Menjadi Orang Tua
  2. Keterlibatan Ayah Dalam Pengasuhan
  3. Tetapkan Tujuan Pengasuhan dan Sepakati
  4. Komunikasi yang Benar, Baik dan Menyenangkan
  5. Orang Tua Yang Menanamkan Nilai Agama
  6. Menyiapkan Masa Baligh
  7. Bijak Memanfaatkan Teknologi


Pilar 1: Kesiapan Menjadi Orang Tua

1. Kenali Pasangan Lebih Jauh

Ada baiknya sebelum menikah, memilih pasangan dengan mengetahui bagaimana dia dibesarkan, apakah dia dari keluarga utuh atau tidak (misalnya orang tuanya cerai), adakah kekerasan dalam keluarganya, dan “ransel” apa yang dibawa. Penting mengetahui itu semua karena akan berpengaruh pada kondisi emosional dalam pengasuhan.

Oia, kesepakatan berapa jumlah anak juga penting. Lagi-lagi karena erat kaitannya dengan kondisi emosional, terutama sang ibu.

“Ransel” yang kita bawa masing-masing harus dikenali, karena pengaruh banget dalam pengasuhan. Sebagai latihan tadi Bu Elly menugaskan untuk masing-masing menulis “ransel” masing-masing. Masalah apa saja yang ada di dalam diri kita, bagaimana itu terjadi, kapan itu terjadi, dan bagaimana perasaan kita tentang masalah tersebut. Lalu bahas dengan pasangan (di luar seminar aja sih, yang penting nulis dulu agar kita kenal dengan diri sendiri).

2. Selesaikan Inner Child yang mempengaruhi seluruh peran dan cara mengasuh anak

Inner child itu anak kecil yang terperangkap dalam tubuh dewasa. Secara tidak sadar, cara kita membesarkan anak kita sama dengan bagaimana orang tua kita membesarkan kita. Kalau dulu orang tua kita dikit-dikit ngomel sama kita karena hal kecil, maka secara tidak sadar kita juga akan berperilaku seperti itu kepada anak kita. Ini yang harus diputuskan. Saat inner child muncul, seperti anak kecil sedang mengasuh anak kecil. Maka yang harus dilakukan pertama kali adalah berdamailah dengan masa lalu. Maafkan lah orang tua kita. Jangan dendam. Lalukan hand cataleptic: tangan kita seolah mengambil masalah dari tubuh dan membuangnya. Lakukan berulang-ulang sampai terasa ringan.

Segera ubah pengasuhan anak sebelum anak kita baligh.
Bayar hutang dengan anak dengan cara dicicil.

3. Pahami cara kerja otak yang berbeda antara laki-laki dan perempuan (alhamdulillah kemarin sudah dapat ilmunya di sini)

4. Perbaiki peran dan tanggung jawab suami istri à menjadi orang tua itu harus menyenangkan, dalam pengasuhan ingat BMM: berpikir, memilih, dan mengambil keputusan. Jangan pakai emosi.

5. Penuhi peran ayah dan ibu

Pilar 2: Keterlibatan Ayah Dalam Pengasuhan

Kedua orang tua harus terlibat dalam pengasuhan. Indonesia termasuk negara yang fatherless. Padahal Ayah berperan sangat penting dalam pengasuhan.

Keuntungan jadi ayah yang terlibat dalam pengasuhan, menurut  Ellison, C., Coltraine, St. Aubin:
  • Dapat membina relasi
  • Lebih efisien
  • Lebih mampu memperhatikan hal-hal yang detail
  • Lebih fokus
  • Lebih cerdas
  • Lebih waspada
  • Penuh perhatian
  • Lebih sabar
  • Tidak terlalu gelisah
  • Lebih penolog
  • Lebih alim
Rata-rata, anak-anak hanya punya waktu kurang dari 1 jam setiap hari untuk kontak dengan ayahnya.
Apa akibatnya? Fatherless syndrome, temper tantrum, kehilangan rasa aman, fisik/emosi/psikologis buruk,  agresif, rentan peer preasure, cenderung suka sejenis, broken home (rentan cerai/bunuh diri).

Dalam pengasuhan ayah dan ibu harus menyadari pentingnya peran kedua orang tua, harus ada kesepakatan, harus ada pembagian tugas, dan ayah harus terlibat dalam pengasuhan sehari-hari.

Pembagian tugas Ayah dan Ibu, misalnya:
Ayah à manner, sosial, emosi, iman & islam, hapalan surat

Ibu à akademis, tanggung jawab sehari-hari, menerapkan quran dalam sehari-hari

Anak laki-laki usia 7 tahun harus dekat dengan ayahnya. Begitu juga dengan anak perempuan usia 7 tahun yang harus dekat dengan ibunya. Kenapa? Supaya anak laki-laki tumbuh menjadi pria dan anak perempuan tumbuh menjadi wanita. Karena belakangnya ini banyak anak laki-laki yang tumbuh seperti wanita (juga kebalikannya).

Kurangnya peran ayah:
Untuk anak laki-laki à nakal (bisa jadi korban atau pelaku bully), agresif, narkoba, dan seks bebas
Untuk anak perempuan à depresi dan seks bebas

Kewajiban ayah:
1. Menentukan Penanggung Jawab pengasuhan anak di tangan siapa
2. Menyediakan: keuangan, makanan & pakaian, serta rumah & isinya dari sumber yang halal.
3. Menyediakan pendidkan, pelatihan, dan pemantauan
4. Menyediakan perawatan diri, harta, dan benda.
5. Ayah harus: berdialog dengan anak!

Hak ayah:
Dicintai, dihargai, dihormati, diperdulikan, dan dipercaya.

Kewajiban ibu: menyusukan anak sampai 2 tahun. Otak dan tubuh ibu membutuhka, waktu 2 tahun untuk pulih dari kerusakan saat hamil dan melahirkan. Anak yang terlalu cepat disapih akan lebih rentan mengalami kecemasan.

Ibu boleh bekerja di luar, tapi saat bekerja harus punya support system yang baik. Contoh Jane Lubchenco yang bergantian mengurus anak dengan suaminya, atau Sally Conway yang mulai kembali bekerja saat anak bungsu berusia 8 tahun (usia dimana anak bisa ditinggal).

Pilar 3: Tetapkan Tujuan Pengasuhan dan Sepakati

Tujuan pengasuhan yang jelas:
1. Hamba Allah yang taqwa, berakhlak mulia, ibadah sempurna
2. Calon istri/suami
3. Calon ayah/ibu
4. Profesional/enterpreneur
5. Pendidik istri, anak, dan keluarga
6. Penanggung jawab keluarga
7. Bermanfaat bagi orang banyak
Catatan: untuk anak perempuan boleh sampai no. 4 saja, tapi untuk anak laki-laki harus sampai no. 7

Pilar 4: Komunikasi yang Benar, Baik dan Menyenangkan

Kekeliruan dalam berkomunikasi:
1. Bicara tergesa-gesa
2. Tidak kenal diri sendiri
3. Lupa: setiap individu UNIK
4. Kebutuhan dan kemauan BERBEDA
5. Tidak membawa bahasa tubuh
6. Tidak mendengar perasaan
7. Kurang mendengar aktif
8. Bicara menggunakan “12 gaya populer”, yaitu: memerintah, menyalahkan, meremehkan, membandingkan, mencap/melabeli, mengancam, menasehati, membohongi, menghibur, mengeritik, menyindir, dan menganalisa.

Jadi saat berbicara dengan anak: tebak perasaan anak, dan alirkan emosinya.

Anak yang terlalu sering dimarahi/dikritik kantong jiwanya akan kempot, yang mengakibatkan anak tidak punya percaya diri, harga diri, dan konsep diri sehingga hal-hal negatif mudah masuk ke dalam anak.

Dalam komunikasi 55% adalan bahasa tubuh, nada suara 38%, dan kata-kata hanya 7%.

Kiat memperbaiki komunikasi dengan anak:
1. Turunkan frekuensi
2. Baca bahasa tubuh
3. Dengarkan perasaan
4. Hindari menggunakan 12 gaya populer

Bicara: Benar, Baik, dan Menyenangkan

Pilar 5: Orang Tua Yang Menanamkan Nilai Agama

Target pendidikan anak ada pada QS 33:35
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”

Siapa yang mendidik soal agama? AYAH. Ibu berperan menutup atau melengkapi kekurangan ayah. Rubah paradigma dalam mendidik agama: bukan bisa tapi SUKA. Agar anak tidak merasa terbebani dalam belajar agama. Pijakannya: tanggung jawab orang tua akan membentuk dan meninggalkan kenangan, sehingga anak akan paham, tidak terbebani, tidak menolak. Anak akan lebih bahagia.

Jangan serahkan pendidikan agama anak hanya pada sekolah-sekolah IT atau pesantren. Belajar agama harus dimulai dari ayah dan ibu terlebih dahulu. Hal yang sederhana saja dulu: sholat berjamaah di rumah dan ajak anak laki-laki sholat jumat di mesjid.

Pilar 6: Menyiapkan Masa Baligh

Dimulai dari: kesadaran dan kesepakatan bahwa anak adalah amanah Allah.

Sadar akan tanggung jawab pada Allah, gentingnya masalah karena isyu yang berkembang (terutama LGBT), dan anak perlu pendampingan melewati pubertas).

Sepakat: orang tua harus punya concern, commitment, dan continuity. Sediakan waktu dan tenaga.
Harus dibedakan seks dan seksualitas. Seks adalah alat kelamin dan masalah seputarnya, sementara seksualitas adalah all aspects of individuality. Seksualitas ini lah yang menjadi tanggung jawab orang tuanya. Jika tidak sanggup, libatkan juga orang-orang sekitar.

Prinsip dasar mengasuh seksualitas:
  • Orang tua pendidik utama & pertama seksualitas anak à konsekuen dan respect
  • Landasan: agama
  • Keluar dari tabu dan saru
  • Tingkatkan pengetahuan dan keterampilan

Bagaimana mempersiapkannya? Masing-masing orang tua buat daftar, kira-kira apa saja yang perlu dibicarakan. Persiapkan materi sesuai umur masing-masing anak. Bagi tugas, tidak hanya ayah dan ibu, boleh juga dengan orang-orang sekitarnya.

Contoh tabelnya:
No.
Kegiatan
Mentor
Batas Waktu
1
Penjelasan dampak (+) dan (-) gadget
Ibu, ayah
Februari
2
Persiapan baligh
Ayah
April
3
Pornografi, selfie, pacaran
Ibu, mbak
Mei
4
Konsekuensi menjadi orang dewasa
Ayah, ibu
Juni

Yang perlu diperhatikan dalam berbicara dengan anak:
  • Berlatih berbicara
  • Gunakan istilah Al quran
  • Miliki “the courage to be imperfect”. Jangan jaim!
  • Harus konsisten (yang perlu dinegosiasi mana, yang tidak bisa dinegosiasi yang mana)


Pilar 7: Bijak Memanfaatkan Teknologi

1. Jangan latah dan jangan mau didikte anak – orang tua harus punya prinsip!
2. Buat aturan & kesepakatan, jangan lupa harus dikontrol, didampingi, dan dibimbing,
3. Jadilah teladan
4. Dialog dengan anak secara berkala
5. Kendalikan à oleh ayah
6. Buat list mengenai masalah anak à didiskusikan dalam rapat keluarga berkala
7. Perbaiki komunikasi
8. Bicara dengan anak mengenai masalah yang dihadapi à bisa dalam rapat keluarga atau berdua saja dengan anak
9. Sampaikan tentang tujuan pebisnis pornografi dan anak mana yang menjadi target
10. Buat aturan & kesepakatan baru, pendampingan, evaluasi, dan kesepakatan baru lagi. Lalu terapkan.

-----------------------

Sekian. Panjang juga ya ternyata. Di kenyataan pun tadi molor sejam. Yang kali ini lumayan masuk sih, jadi pengen diskusi panjang sama H. PR buat kami berdua dari bu Elly: bahas ransel masing-masing lalu tentukan tujuan pengasuhan. Semangat!

No comments:

Post a Comment

Say what you need to say..