Friday, November 16, 2018

Backstreet Dads

Terharu banget ini sekarang Backstreet Boys semua udah punya anak. Dari mereka masih piyik (eh Nick doang sih yang piyik dulu :P), sampe sekarang udah jadi bapak-bapak, mereka masih beredar aja gitu. Sayah sebagai BSB-#1-fans sekecamatan Sukajadi merasa bangga karena ga salah pilih boyband idola. Dari gw SMP sama mamak-anak-dua masih bisa nikmati lagu barunya mereka.

Ga mau panjang lebar, gw cuma mau nyimpen artikel di mari. Abisnya emessssh! This is too adorable! Lihat mereka foto sama anaknya masing-masing. Eeeh kecuali Brian deng. Anaknya Brian, Baylee, kata lagi sibuk makanya ga ikut foto. Padahal menurut analisis sotoy gw Baylee emang ga mau ikutan soalnya dia merasa gede sendiri, ahahahah.. Lha iya, Brian nikah muda siiih.. Anaknya udah 16 taun sekarang, sementara yang laen masih masih usia SD dan bayik. Jadi kalau mau diurut dari yang paling tua: Baylee Littrel (2002), Mason Richardson (2007), James Dorough (2009), Ava Mclean (2012), Holden Dorough (2013), Maxwell Richardson (2013), Odin Carter (2016), dan terakhir Lyric Mclean (2017).

Yaudah dibaca aja artikelnya, dan sila ditonton videonya juga..

Emeshhh kan liatnyaaa.. :p (Sumber foto dari pinterest)
Btw, they should change their group name to Backstreet Dads 😁😁😁

Thursday, November 15, 2018

Sharing Seminar Parenting (Part 2)

Alhamdulillah tahun ini diberi kesempatan lagi dari buibu kantornya H untuk mengikuti seminar parenting gratis! (mamakgober mode ON)

Kali ini pengisinya DR. Aisha Dahlan. Sama dengan seminar parenting 2 tahun yang lalu, gw dibuat meneteskan air mata juga. Bedanya, klo dulu shock dengan kenyataan di luar sana yang menyeramkan dan inget anak di rumah, yang sekarang nangisnya gara-gara ketawa melihat tingkah laku bu Aisha dalam membawakan materi parenting ini. Duh gemes gw sama si ibu, lucuk banget! Hihihihihi..

Judul seminar dari panitia tahun ini adalah Bahaya Gadget Terhadap Interaksi Antara Orang Tua, Anak, dan Lingkungan Sekitar. Pas awal seminar ibu Aisha bilang, "bener ga nih bahaya? Atau hanya berbeda persepsi."

Beliau lalu memberikan contoh saat pertama kali alfabet diciptakan, anak-anak mudanya pada saat itu jadi suka menulis pada batu. Kemana-mana bawa batu untuk dibaca atau menulis. Para orang tua kesal karena anak-anak kerjanya menundukkan kepala, membaca batu. Merasa kenal dengan situasi seperti ini? Padahal alfabet tidak salah. Malah berguna sekali. Kalau alfabet tidak perncah diciptakan, apalah kita sekarang ini.

Sama seperti gadget, tujuan gadget diciptakan bukan untuk merusak tapi untuk membantu. Salah atau tidaknya bagaimana kita yang menggunakannya. Kita tidak bisa melawan era, mari bijaksana. Makanya, ibu Aisha mengganti judul seminar parentingnya: "Menjadi Orang Tua Bijak Di Era Milenial."

1946 – 1964 : Generasi Baby Boomer
1965 – 1979 : Generasi X
1980 – 1994 : Generasi Y atau Generasi Milennial
1995 – 2012 : Generasi Z
2012 – 20xx : Generasi Alpha

(Jadi sebenernya generasi milennial itu gw ya, bukan para abege jaman now :P)

Generasi Milennial dan Generasi Z merupakan generasi yang teknologi informasinya maju dengan pesat. Hal ini yang mengakibatkan banyaknya permasalahan yang timbul dengan generasi sebelumnya.

Sebagai ibu dan istri, kita harus membuat rumah aman dan nyaman. Caranya? Senyum. Apapun yang terjadi. Karena jika rumah tidak nyaman, anak akan keluar dari rumah dan disambut dengan musuh-musuh yang mengintai seperti LGBT, narkoba, tawuran, bully, dan lain-lain. Tapi jangan takut, musuh-musuh itu tidak usah ditakuti. Yang harus kita lakukan hanyalah membuat anak nyaman berada di rumah.

“Anak biasanya memberi tanggapan/reaksi yang lebih baik bila diberi senyum dan diajak biacara dengan sikap hangat dan penuh kasih sayang.” – Dr. Burstein dalam buku Dr. Burstein’s Book on Children.

Kalau susah senyum lakukan tarik napas panjang (bisa berkali-kali), dan ucapkan istighfar, untuk melepas CO2 dan memasukkan kembali O2 ke dalam otak agar kita bisa berpikir dengan jernih dan emosi berkurang. (Catatan: kata ibu Aisha lakukan lah dengan cantik :D)

Manusia yang merasa bersalah, jika disambut dengan negatif maka akan memunculkan mekanisme pertahanan diri dengan berbohong. Sebaliknya jika disambut dengan senyuman maka otomatis akan berkata jujur. Misal: anak pulang larut malam lalu kita sebagai ibu marah-marah, maka ketika ditanya dia kemungkinan besar akan berbohong. Makanya, harus selalu disambut dengan senyuman supaya anak nyaman dengan kita.

Hati-hati dengan kata-kata. Hindari juga kata-kata negatif seperti “tidak” atau “jangan” karena kata-kata ini tidak akan terekam ke dalam otak.

Misal:
“Kamu itu kalau main game online lamaaaa banget!” à yang terekam adalah main game lama
“Kamu itu kalau main game online jangan lama-lama yaaa!” à yang terekam adalah main game lama

Maka dari itu, sebelum memberikan instruksi/peraturan kepada anak, pikirkan baik-baik apa yang ingin kita sampaikan kepada anak. Untuk contoh di atas, kita ingin anak main game tidak terlalu lama, maka kita batasi sampe berapa lama anak boleh main game online.

Jadi, instruksi yang tepat adalah:
“Kamu main game 2 jam aja ya!” à yang terekam adalah main game hanya 2 jam

Harus diingat: kata-kata yang diulang-ulang sampai 3x atau lebih akan terekam di dalam sistem.

Laki-laki tidak sama dengan perempuan. Tuhan memberi program yang berbeda pada otak laki-laki dan perempuan. Perbedaan laki-laki dan perempuan adalah:

1. Kemampuan bahasa

Kemampuan bahasa pada laki-laki hanya ada di otak kiri, sedangkan pada perempuan ada di otak kanan dan kiri. Karena hal itu, maka laki-laki ‘hanya’ punya stok 7.000 kata/hari, sedangkan perempuan punya 20.000 kata/hari. Jadi jangan baper kalau anak laki-laki/suami pas ditanya pulang sekolah/kantor diem aja atau di-wa panjang lebar hanya balas dengan 1 kata karena stok kata mereka sudah dihabiskan di sekolah/kantor.

2. Corpus collosum

Corpus collosum ada bagian dari otak yang menghubungkan otak kanan dan kiri. Pada perempuan, bagian ini lebih tebal 30% daripada laki-laki. Hal itu menyebabkan otak kanan dan kiri pada perempuan dengan mudah dapat terhubung, makanya perempuan lebih bisa multitasking daripada laki-laki. Akan tetapi, efek samping dari multitasking ini adalah perempuan rata-rata sulit untuk membedakan arah, makanya perempuan tidak bisa membaca peta. Hanya 8% dari perempuan yang bisa membaca peta.

Pada laki-laki, dengan bagian corpus collosum yang lebih tipis mengakibatkan otak disusun untuk memusatkan perhatian, dan dalam keadaan fokus tersebut kemampuan pendengarannya menurun. Jadi laki-laki hanya bisa mengerjakan satu pekerjaan pada satu waktu.

Makanya sangat susah untuk memanggil anak laki-laki/suami saat mereka sedang fokus dengan sesuatu, misalnya gadget. Tidak perlu marah. Mereka baru akan merespon setelah 3-5x panggilan. Jika ingin cepat direspon coba dicolek aja. :D

3. Kontak mata

Anak perempuan sangat suka dengan wajah, saat kita berbicara mereka suka kalau kita melihat wajah dan berkontak mata dengannya. Makanya, anak perempuan lebih suka melihat video tutorial dibandingkan video tentang benda. Sedangkan anak laki-laki tidak suka dengan kontak mata. Mereka lebih bereaksi pada benda.

Jadi saat berbicara dengan anak perempuan, selalu tatap matanya. Sebaliknya jika berbicara dengan anak laki-laki/suami lakukan sambil mengerjakan pekerjaan lain supaya mereka bisa fokus kepada kita.

4. Sudut pandang

Penglihatan perempuan diciptakan lebih lebar dari pada laki-laki tapi lebih pendek, makanya perempuan lebih cocok berada di rumah. Sedangkan penglihatan laki-laki diciptakan lebih panjang daripada perempuan tapi lebih sempit, makanya laki-laki cocok untuk di luar ruangan, seperti berburu.

Makanya, saat berbicara dengan anak laki-laki/suami, duduk atau berdirilah tepat di depannya.

5. Otot wajah

Perempuan berespon secara emosional setelah 2,5 detik dan bisa sangat ekspresif (cenderung berlebihan), sedangkan laki-laki berespon hanya dalam 0,2 detik tapi emosi wajah tersembunyi. Misal: saat anak jatuh, Bapak bisa lebih cepat merespon daripada Ibu, walau dengan muka datar. Sementara Ibu biasanya lebih panik dan emosional saat melihat anaknya jatuh.

Dalam 1 percakapan, perempuan bisa berganti-ganti ekspresi sebanyak 6x, sementara laki-laki hanya punya 1 ekspresi. (Sekali lagi, jangan baper ya buibu kalau suaminya ga ngerespon, memang pada fitrahnya mereka cuma punya 1 ekspresi :P – Ibu Aisha.)

7. Hipotalamus

Hipotalamus adalah bagian otak yang mengatur fungsi fisiologis seperti nafsu makan dan seks. Bagian hipotalamus pada laki-laki 2,5x lebih lebar dari hipotalamus perempuan. Makanya anak laki-laki/suami yang sedang kelaparan susah diajak berbicara.

Saat ingin berbicara serius dengan anak laki-laki atau suami: hindari kontak mata (karena mereka tidak suka kontak mata), jangan dilakukan pada malam hari (stok kata-katanya sudah habis kalau malam), dan jangan lakukan saat perut kosong (berhubungan dengan hipotalamus).

Dan karena kemampuannya yang fokus dalam satu-pekerjaan-satu-waktu dan ekspresi yang cenderung tersembunyi ini lah, anak laki-laki dan suami yang baru pulang tidak bisa ditanya. Mereka baru bisa ditanya setelah 10 menit datang di suatu tempat. (Sabar ya ibu-ibu ;D – Ibu Aisha).

Q&A

Berapa usia yang tepat untuk memberi gadget pada anak?
Sebagai orang tua di era milenial, jangan jauhkan anak-anak pada gadget. Tidak selamanya gadget mempunyai dampak buruk pada anak. Kenalkan tapi batasi. Usia 2 tahun sudah boleh dikenalkan pada gadget, tapi ingat harus dibatasi. Buat kesepakatan dengan anak kapan dan berapa lama dia boleh memakai gadget.

Bagaimana menghadapi anak yang tantrum?
Lihat QS Ali Imran ayat 159:
“Maka karena rahmat dari Allah, engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka, sekiranya engkau berlaku keras dan berhati kasar, tentulan mereka menjauhkan dari sekitarmu. Maka maafkanlah mereka dan mohonkan ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam sesuatu urusan. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang yang bertawakal.”

Jadi jika anak tantrum hal pertama yang harus dilakukan adalah:
  • Bersikap lemah lembut (meminta rahmat Allah0
  • Maafkan anak
  • Mohon ampunan bagi anak
  • Berbicara pada anak, buat/ingatkan kesepakatan (ingat: cara berbicara dengan anak laki-laki dan anak perempuan berbeda)
  • Jangan ragu, tetapkan hati pada hasil musyawarah


Bagaimana membuat quality time dengan keluarga tapi suami tetap fokus pada gadget dan pekerjaannya?
Laki-laki pada fitrahnya adalah kepala keluarga yang ingin melindungi keluarganya. Fokus pada pekerjaan adalah salah satu upaya suami dalam melindungi ekonomi keluarga. Saat hal ini terjadi, beri ruang pada suami biarkan dia menyelesaikan pekerjaan. Setelah itu baru lanjutkan quality time dengan keluarga.

Ibu Aisha juga berpesan, hal yang bikin pasangan berantem adalah ketidaktahuan akan perbedaan laki-laki dengan perempuan. Terima perbedaan itu, tarik napas panjang jika sedang kesal, dan jangan lupa untuk selalu tersenyum. :)

Friday, November 09, 2018

What Are The Chances

I'm soooooo in love with this Backstreet Boys' new song and video. Great song, great lyrics, and really great music video!

Terharu banget deh nonton videonya, keren abis! Ini bapak-bapak masih pada ganteng aja sih! 😍😍😍😍😍

Untuk merayakan 9 November keluarnya lagu dan video ini, langsung gw posting di blog deh! Selamat menikmati!

PS: Terima kasih Backstreet Boys, gw jadi suka lagi sama bulan November. ;)

----

Chances - Backstreet Boys

what if I'd never run in to you what if you'd never smiled at me what if I hadn't noticed you too and you’d never showed up where I happened to be whats a girl like you doing in a place like this on quiet night what are the odds what's a guy like me doing in a place like this could have just walked by who would've thought what are the chances that we'd end up dancing like two in a million like once in a life that I could have found you put my arms around you like two in a million like once in a life what are the chances what if I hadn’t asked for you name and time hadn’t stopped when you said it to me of all of the plans that I could’ve made of all of the nights that I couldn’t sleep whats a girl like you doing in a place like this in a crowded room what are the odds what's a guy like me doing in a place like this getting close to you who would've thought what are the chances that we'd end up dancing like two in a million like once in a life that I could have found you put my arms around you like two in a million like once in a life what are the chances Is it love Is it fate Where it leads who can say Don’t know exactly what it means Is it love Is it fate Where it leads who can say Maybe you and I were meant to be what are the chances that we'd end up dancing like two in a million once in a life that I could have found you put my arms around you like two in a million once in a life what are the chances

Monday, September 10, 2018

Alone, Again.

Udah ketauan banget kalau gw mulai nulis di blog tandanya gw kesepian dan galau. *miris

Iya, rasanya sepi. Tapi gtau mau curhat sama siapa, ngomong apa.
Iya, ngerasa sendiri. Tapi gtau mau ngapain, sama siapa.
Ada beberapa hal yang ga gw ngerti. Tapi gtau mau nanya ke siapa, mulai dari mana.
Ada beberapa hal yang mau gw tanya. Tapi takut salah mengira, gw yang sensyong.

Mulai merasakan ketakutan itu lagi.
Mimpi buruk beberapa tahun lalu sampe pengen lari.

Insting gw ga pernah salah.

Mau bodo amat tapi ga kepikiran.
Mau gw cuekin tapi ga bisa.

Rasanya semakin jauh.
Cape hati.





I think we start growing apart.

Saturday, December 31, 2016

H's Double 3

Happy 33rd birthday, dear H! 


Selamat ngantor sehari-semalam.
Selamat merayakan ulang tahun di kantor.
Selamat tiup lilin dan makan kue sama teman-teman kantor.

:/

*lahiniistrinyayangbaper:p*

Anyway, semoga papim selalu bahagia. :)

*virtual hugs & kisses*
Mamim, Jon, Jes.

Tuesday, November 29, 2016

Bayi Kuning

Waktu itu gw mau cerita ya soal bayi kuning.


Berbekal pengalaman anak pertama yang kuning karena beda jenis golongan darah, saat anak kedua golongan darahnya sama, tidak curiga kalau anak ini akan kuning juga. Karena, katanya, kalau golongan darahnya sama kemungkinan bayinya tidak akan kuning. Akan tetapi, saat malam kedua, anak bayi ini terlihat kuning sampai ke mukanya. Malam kedua itu pula, anak bayi rewel banget, nyusu ga mau, digendong ga mempan. Mana sendirian pula tidak ada yang menemani. Luka akibat SC pun masih terasa sakit.
Besok paginya, suster pun menyadari kalau bayinya kuning. Setelah cek lab, ternyata bilirubinnya sangat tinggi, sekitar 19. Mau tidak mau, anak bayi harus disinar saat itu juga. Karena kalau sampai 20 lebih, bisa menyerang otak dan lebih berbahaya lagi. Akhirnya, di hari kedua itu, anak bayi pun dirawat. Untungnya ruangan gw cukup dekat dengan ruang perinatologi tempat anak bayi disinar, jadi masih bisa bolak-balik untuk menyusui setiap 2 jam. Tapi akibat bolak-balik itulah jadi ada perdarahan di bekas luka SC. Sudah ganti perban tetap perdarahan. Ya mungkin karena bergerak terus-terusan ya. Ketika dicek dokter, ternyata ada jahitan yang lepas dan dijahit ulang saat itu juga. Malam itu, harus bedrest. Ga boleh kemana-mana selain ke kamar mandi. Yasudah lah, karena ASI masih sedikit kalau dipompa, malam itu anak bayi minumnya ditambah susu formula. Daripada minumnya kurang kan? Karena bilirubinnya masih tinggi juga.

Sunday, November 13, 2016

Sharing Seminar Ibu Elly Risman

Hari Kamis kemarin akhirnya ikut juga seminar parenting-nya ibu Elly Risman setelah berkali-kali denger cerita temen atau baca blog orang. Yang ngadainnya buibu kantor H, yang ikutan gratis pula. #mamakgober. Baru juga 5-10 menit bu Elly cerita, gw udah mau mewek langsung inget anak-anak di rumah. Jaman sekarang ngerinya pake banget. Sebenernya bahasan seminar ini gw udah tau, udah bisa menebak tapi tetep aja berasa diingetin sambil diteriakin dan diguncang-guncang. *ok ini lebay*

Judul seminar parenting-nya adalah “Mengenali dan Mengatasi Kecanduan Anak pada internet, pornografi, dan game online”. Cocok nih buat gw yang memang kecanduan internet dan game onlen. *ngaku aja deh gw*

Sesuai pesan bu Elly, ini wajib di-share ke orang terdekat: adik/kakak, saudara, tetangga, dan terutama suami sendiri. Ini ya guys…

-----------------------------------------

My family, your family, our family are under attacked! Wifi gratis yang terpasang di rumah, tv berbayar, handphone yang dengan gampang diakses dari tangan sendiri, sampai warnet yang bertebaran di dekat rumah ternyata berbahaya.
Banyak kasus pornografi anak ternyata dari orang terdekat anak, entah itu saudara atau tetangga.
Sebagai orang tua yang tidak pernah ada sekolahnya, ternyata kita tidak siap menjadi ortu karena tidak menguasai: tahapan perkembangan anak, bagaimana cara otak bekerja, dan cara berkomunikasi dengan benar. Padahal dalam pengasuhan yang paling penting adalah cara berkomunikasi.

Kekeliruan dalam komunikasi:
1.       Bicara tergesa-gesa
2.       Tidak kenal diri sendiri
3.       Lupa: setiap individu UNIK
4.       Kebutuhan dan kemauan BERBEDA
5.       Tidak membawa bahasa tubuh
6.       Tidak mendengar perasaan
7.       Kurang mendengar aktif
8.       Bicara menggunakan “12 gaya popular”, yaitu:
a.       Memerintah
b.      Menyalahkan
c.       Meremehkan
d.      Membandingkan
e.      Mencap/melabeli
f.        Mengancam
g.       Menasehati
h.      Membohongi
i.         Menghibur
j.        Mengeritik
k.       Menyindir
l.         Menganalisa

Akibat bicara tidak sengaja pada anak:
1.       Melemahkan konsep diri
2.       Membuat anak diam, melawan, menentang, tidak peduli, sulit diajak kerja sama
3.       Berbagai emosi negative
4.       Tidak terbiasa berpikir, memilih, dan mengambil keputusan (BMM) bagi diri sendiri
5.       Iri terus

Jiwa anak itu ibarat kendi. Jika kendinya penuh dia tidak akan gampang terpengaruh, sebaliknya jika kendinya kempot/kosong maka akan gampang terpengaruh. Kendi akan penuh apabila anak diberikan penghargaan, pujian, dan kasih saying. Kendi akan kosong jika anak diberi teguran, hukuman, kecaman, cacian, dan ejekan.

Anak itu harus punya kepercayaan diri, harga diri, dan konsep diri.

Inner child à kenangan saat kita kecil yang terbawa saat dewasa. Misal, waktu kecil kita suka dicubit oleh orang tua kita, tanoa sadar saat kita punya anak pun kita otomatis jadi suuka mencubit anak kita.

Kenapa kita suka bertingkah ABCD dalam mengasuh anak, mengapa suami cenderung lebih cuek dalam mengasuh anak, itu semua karena inner child. Inner child dapat membuat sampah emosi yang menumpuk dan dapat mengakibatkan kekerasan emosi pada anak. Jadi, selesaikan urusan kita dengan inner child. Apa yang terjadi dengan kita di masa lalu: maafkan dan ampunkan. Sholat, dan lakukan hypnoterapi pada diri sendiri, agar inner child tidak muncul dan tidak berimbas pada anak kita.
Target utama bisnis pornografi adalah:
1.       Anak laki-laki yang belum baligh
Kenapa anak laki-laki?
-          Karena laki-laki memakai otak kiri, sehingga lebih gampang focus
-          Testosteron lebih banyak
-          Kemaluan diluar sehingga lebih mudah distimulasi/dirangsang
2.       Anak-anak yang 3S: smart (punya akses internet), sensitive (akibat ayah dan ibu yang ada dan tiada), dan spiritual (yang tidak mengajarkan anak untuk menjaga pandangan terhadap segala sesuatu)
3.       Anak-anak yang BLAST (Boring, Lonely, Angry, Afraid, Stress, dan Tired)
Akibatnya: masturbasi, narkoba, miras, merokok, pacaran, oral seks, seks suka sama suka, seks sesama jenis.

Pornografi adalah tempat lari di saat stress, dan karena tidak ada yang bisa diajak bicara.

Yang mereka inginkan dari anak kita (menurut Mark B. Kastleman)
1.        Anak memiliki perpustakaan porno, yaitu mental model porno yang flash kapan dana dan dimana saja, bahkan saat sholat dan tidak bisa dikendalikan. Perpustakaan porno ini mengubah cara berpikir, melihat, dan bertingkah laku.
2.        Kerusakan otak permanen. Kerusakan yang sama yang diakibatkan kecelakaan mobil parah.
3.        Pelanggan seumur hidup = future market.

Ciri-ciri anak yang kecanduan pornografi:
1.        Mengurung diri dan menghabiskan waktu dengan games dan internet di kamar
2.        Bila ditegur dan dibatasi bermain gadget dia marah, melawan, berkata kasar dan keji
3.        Mulai impulsive: berbohonh, jorok, mencuri
4.        Sulit berkonsentrasi
5.        Prestasi akademis menurun
6.        Jika berbicara menghindari kontak mata
7.        Malu tidak pada tempatnya
8.        Menyalahkan orang
9.        Hilang empati, yang diminta harus diperoleh

Proses kecanduan pornografi pada anak dan remaja:
Tidak sengaja melihat (merasa aman tapi menasaran) à Pelepasan dopamine à kecanduan à tidak peka lagi à adiksi meningkat à melakukannya

Proses kecanduan pada balita:
Tidak sengaja melihat à pelepasan dopamine à melakukannya

Anak perempuan, memang bukan target utama bisnis pornografi karena pada dasarnya mereka tidak suka pornografi. Akan tetapi, jika sudah terpapar pornografi maka mereka bermental “OK”, dan dapat menjadi mangsa predator pornografi. Bermental “OK” maksudnya adalah jika ada yang meminta foto bagian sensitive, tanpa pikir panjang mereka akan segera mengirimkannya.

Akibat langsung dari kecanduan pornografi:
Selfie – sexting –masturbasi – pacaran – oral seks – pergi ke lokalisasi – pemerkosaan – seks suka sama suka – seks di sekolah – disfungsi ereksi – incest – seks dengan binatang

Langkah-langkah menjadi terapis bagi anak sendiri:
1.        Tenang
2.        Jangan panik
3.        Bermusyawarah dengan suami
-           Pilih waktu terbaik, biasanya setelah berhubungan
-           Bicara soal isyu kritis
-           Rumuskan kalimat jangan lebih dari 15 kata
4.        Anak amanah dari Tuhan, bisa jadi permata hati, ujian, dan musuh
5.        Takut pada Tuhan, meninggalkannya lemah
6.        Terima, maapkan, jangan marah, dan minta ampunan
7.        Selesaikan urusan dengan diri sendiri. Selesaikan Inner Child. Diri sendiri baru urusan anak.
8.        Kembalikan peran AYAH
Kurang berfungsinya ayah dalam keluarga dapat mengakibatkan: anak, agresif, narkiba, seks bebas untuk anak laki-laki dan depresi seksbebas bagi anak perempun
9.        Komunikasi
Caranya dengan menurunkan frekuensi berbicara, baca bahasa tubuh, dengarkan perasaan, bicara dengan baik, benar dan menyenangkan. Bicara tentang hal-hal yang menyangkut emosi & harga diri anak. Kecanduan akan menurun.
10.    Untuk yang belum kecanduan:
-           Jangan latah
-           Miliki alasan untuk member gadget pada anak
-           Harus ada peraturan, kesepakatan, konsekuensi, dan ketentuan.
-           Pendampingan dan penerapan konsekuensi
-           Dialog dengan anak tentang isyu terkini
-           Bentuk dan arahkan anak
-           GUNAKAN KALIMAT BERTANYA
11.    Langkah menghadapin anak kecanduan:
-           Syukur – tempatkan masalahnya
-           Sabar – menghadapi kerusakan otak
-           Sholat – mendekat dan meminta pertolongan-Nya
-           Sedekah
-           Baca alquran/kitab suci
-           Berbaik dengan diri sendi
-           Bantu anak dulu
-           Jangan salah-salahan dengan suami
12.    Tanyakan pada anak (dilakukan kalau kita sudah memperbaiki cara berbicara kita)
-           Kapan pertama kali melihat?
-           Bagaimana rasanya?
-           Apa yang kamu rasakan?
-           Apa yang kamu lakukan setelah melihat itu?
-           Berapa lama kemudian kamu melihatnya lagi?
-           Sekarang apa yang kamu rasakan?
-           Apakah kamu merasa perlu bantuan ayah/ibu?
13.    Jelaskan target penyedia pornografi
14.    Tanyakan bagaimana pendapatnya. (tunggu sampai dia menjawab)
15.    Pahamkan bagaimana hukun agama tentang pornografi dan dampaknya serta konsekuensinya terhadap anak dan masa depannya. Harus ayah yang ngomong karena anak lebih tepat sasaran.
16.    Susun bersama  kegiatan pengganti, buat jadwal dan sepakati
17.    Buat peraturan dan sepakati: penggunaan gadget, filterisasi rumah. Orang tua harus jadi teladan.
18.    Anak perlu pendampingan: kenali waktu rentan dan hindari anak dari stimulus. Jika anak berangkat, baru kita berangkat. Sebelum anak pulang, kita sudah harus ada di rumah. Untuk yang orang tuanya bekerja, siapa yang gajinya lebih kecil maka dia yang melakukannya.

--------------------------------

Setelah dbaca lagi nampak biasa aja ya, klo ikut langsung tuh, menohok banget deh bu Elly ngomongnya. *tutupmuka*